• Pajak

    Penerimaan Pajak Turun, Cuma Rp228,1 T per Maret 2021

    Jakarta, CNN Indonesia — 

    Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan penerimaan pajak hanya sebesar Rp228,1 triliun pada Maret 2021. Jumlahnya turun 5,6 persen dari Maret 2020 yang sebesar Rp241,6 triliun

    Sri Mulyani menyatakan penurunan ini salah satunya disebabkan pemanfaatan restitusi yang dipercepat. Selain itu, ada transaksi yang tak berulang dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

    “Karena Maret 2020 itu covid-19 belum seperti sekarang, ada beberapa faktor transaksi yang tidak berulang,” ucap Sri Mulyani dalam konferensi pers, Kamis (22/4).

    Sementara, ia menyatakan penerimaan dari beberapa jenis pajak tercatat minus. Rinciannya, penerimaan PPh 21 selama kuartal I 2021 minus 5,58 persen, PPh 22 impor minus 38,55 persen, dan PPh badan minus 40,48 persen.

  • Pajak

    Mantap! Penggunaan e-Filling SPT Online Meningkat Tajam

    Bisnis.com, JAKARTA – Realisasi penyampaian SPT per 9 Maret 2020 telah mencapai 6,27 juta pelaporan, meningkat dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai 4,73 juta.

    Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pajak (DJP), jumlah WP yang melaporkan SPT melalui e-Filling tumbuh drastis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

    Per 9 Maret, jumlah SPT yang dilaporkan melalui e-Filling mencapai 5,4 juta SPT, lebih tinggi dibandingkan 9 Maret tahun lalu dimana pelaporan melalui e-Filling baru mencapai 4,16 juta SPT.

    Seiring dengan meningkatnya penggunaan e-Filling dalam pelaporan SPT, jumlah pelaporan SPT yang dilakukan secara manual pun tercatat menurun.

  • Makro

    Utang Luar Negeri Capai Rp5.660 Triliun per Desember 2019

    Jakarta, CNN Indonesia — Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencapai US$404,3 miliar atau sekitar Rp5.660 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar AS) hingga akhir Desember 2019. Posisi utang cenderung melandai, baik di sektor publik (pemerintah dan bank sentral) maupun sektor swasta (termasuk BUMN) masing-masing US$202,9 miliar dan US$201,4 miliar.

    Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), ULN kuartal IV 2019 itu tumbuh 7,7 persen secara tahunan. Tren utang melambat dibandingkan pertumbuhan kuartal IV 2018 sebesar 10,4 persen.

    Hingga Desember 2019, ULN pemerintah tercatat US$199,9 miliar atau naik 9,1 persen. Pertumbuhan utang pemerintah itu lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat tumbuh 10,3 persen.

    “Pertumbuhan ULN pemerintah ditopang oleh arus masuk investasi nonresiden pada SBN domestik dan penerbitan dual currency global bonds mata uang dolar AS dan euro. Ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi domestik yang tinggi,” tulis BI dalam keterangan resmi, Senin (17/2).

  • Makro

    Defisit APBN 2019 hingga bulan November mencapai Rp 368,9 triliun

    KONTAN.CO.ID –  JAKARTA.  Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 per akhir November 2019 telah mencapai Rp 368,9 triliun. Realisasi defisit anggaran tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 279,7 triliun.

    Secara persentase, defisit anggaran hingga November mencapai 2,29% terhadap produk domestik bruto (PDB). 

    Persentase defisit juga melebar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya di mana defisit hanya 1,89% dari PDB. Total pendapatan negara per akhir November mencapai Rp 1.677,1 triliun atau tumbuh 0,9%  year on year  (yoy). 

  • Berita

    Menggantang Cuan Dari Transaksi Dagang Online

    Bisnis.com, JAKARTA — Perkembangan transaksi online turut mendatangkan pundi-pundi keuntungan bagi perbankan Tanah Air. Bahkan, pada masa mendatang tran­saksi daring ini bakal memberikan cuan yang lebih besar bagi bank.

    Dalam laporan e-Conomy 2019 oleh Google, Indonesia memiliki potensi transaksi digital yang besar. Laporan itu memprediksikan transaksi digital di Indonesia dapat mencapai US$41 miliar pada 2019.

    Penyumbang terbesarnya berasal dari transaksi dagang-el (e-commerce), yakni sebesar US$21 miliar. Penyumbang besar lainnya berasal dari transaksi online travel dan ride hailing, dengan nilai masing-masing sebesar US$10 miliar dan US$6 miliar.

    Masih dari laporan yang sama, transaksi digital di Indonesia pada 2025 diprediksi melonjak menjadi sebesar US$133 miliar. Segmen dagang-el tetap menjadi penopang terbesar dengan nilai US$82 miliar.

  • Finansial

    Ekonomi Lesu, OJK Masih Optimis Kredit Bisa Tumbuh 10 Persen

    Jakarta, CNN Indonesia — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih berharap pertumbuhan penyaluran kredit tahun ini bisa mencapai 10 persen meski pertumbuhan ekonomi lesu.

    Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal III 2019 cuma 5,02 persen atau melambat dari periode yang sama tahun lalu 5,17 persen.

    Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana optimistis target tersebut bisa tercapai meski di satu sisi ia melihat tekanan dari kondisi ekonomi global maupun domestik.

    Prediksi tersebut masih sejalan dengan target kenaikan penyaluran kredit yang dipatok OJK, yakni 9 persen-11 persen. Target itu sudah direvisi dari sebelumnya 10 persen-12 persen.

  • Makro

    Ekonomi Cuma Tumbuh 5,02 Persen pada Kuartal III 2019

    Jakarta, CNN Indonesia — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2019 cuma 5,02 persen secara tahunan. Realisasi tersebut melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, 5,17 persen. Capaian tersebut juga lebih rendah dari kuartal II 2019 yang mencapai 5,05 persen.

    Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan pertumbuhan ekonomi secara kuartal tercatat 3,06 persen. Angka tersebut juga melambat dibandingkan dengan kuartal III 2018 yang sebesar 3,09 persen.

    “Secara kumulatif ekonomi melambat karena kalau dibandingkan dengan kuartal II 2019 tumbuh 5,05 persen dan kuartal III 2018 sebesar 5,17 persen,” kata Suhariyanto di kantornya, Selasa (5/11).

    Ia mengatakan perlambatan ekonomi dalam negeri dipengaruhi oleh ketidakpastian global. Hal ini juga sejalan dengan perlambatan sejumlah negara lain, seperti Amerika Serikat (AS), Singapura, dan Korea Selatan.

  • Makro

    Kian Naik, Utang Pemerintah Tembus Rp4.680 T per Agustus

    Jakarta, CNN Indonesia — Kementerian Keuangan mencatat posisi utang mencapai Rp4.680,19 triliun per akhir Agustus 2019. Posisi ini meningkat 7,26 persen jika dibanding periode yang sama tahun lalu yakni Rp4.363,19 triliun.

    Mengutip data Kementerian Keuangan, utang tersebut didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN) dengan nilai Rp3.881,9 triliun atau meningkat 9,59 persen dibanding tahun lalu yakni Rp3.541,89 triliun. Sementara itu, sisa utang Rp798,28 triliun merupakan pinjaman biasa.

    Dengan posisi tersebut, artinya rasio utang pemerintah tercatat 29,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sejatinya, rasio ini menurun dibanding periode yang sama tahun lalu yakni 30,31 persen dari PDB.

    Posisi utang yang meningkat ini tak lepas dari peningkatan penarikan utang yang dilakukan pemerintah sepanjang tahun ini.

  • Bank

    Kompetisi Bank Besar: Sodok Menyodok di Level Menengah

    Bisnis.com, JAKARTA – Pembentukan aset oleh perbankan papan atas selama semester I/2019 mampu membuat beberapa bank bertukar peringkat di level menengah, sedangkan di level atas masih tidak mengalami perubahan berarti.

    Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, peringkat 7 besar bank masih belum tergeser. Secara berurut, bank dengan aset paling besar hingga kecil diduduki oleh Bank BRI, Bank Mandiri, Bank BCA, Bank BNI, Bank BTN, CIMB Niaga dan Bank Panin.

    Adapun, pada rangking ke-8, ada Bank Danamon yang mengalami kenaikan aset konsolidasi menjadi sebesar Rp198,59 triliun per akhir Juni, tumbuh 8,87 persen secara tahunan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

    Meski tidak tumbuh besar secara persentase, kenaikan aset membuat perseroan mampu naik tingkat dari peringkat 10 pada akhir 2018 dengan jumlah aset Rp159,6 triliun (bank only). Posisi peringkat perseroan tidak berubah sejak 2016.

  • Makro

    Kuartal II, Defisit Transaksi Berjalan Bengkak Jadi US$8,4 M

    Jakarta, CNN Indonesia — Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan(current account deficit/CAD) pada kuartal II 2019 mencapai US$8,4 miliar atau 3 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Realisasi tersebut membengkak 21 persen jika dibandingkan kuartal I 2019, US$6,97 miliar. 

    Nilai CAD periode April-Juni 20019 juga melebar 6,2 persen dari periode yang sama tahun lalu yang tercatat US$7,95 miliar.

    “Defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal II 2019 melebar dipengaruhi perilaku musiman repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri, serta perekonomian global yang kurang menguntungkan,” ujar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam keterangan tertulisnya, dikutip Jumat (9/8).

    Onny mengungkapkan perlambatan perekonomian global membuat harga komoditas merosot. Akibatnya, secara tahunan, kinerja ekspor nonmigas Indonesia terseret 5,2 persen menjadi US$37,2 miliar.

    Defisit neraca perdagangan migas juga meningkat 14,3 persen menjadi US$3,2 miliar dari US$2,8 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Dibandingkan kuartal I 2019, US$2,2 miliar, defisit neraca perdagangan migas juga melebar 45 persen.

Kunjungi Kami www.kjaanditagunawan.com
Stay tuned 
close-image