• Makro

    Baru Januari, Defisit APBN Sudah Capai Rp36,1 T

    Jakarta, CNN Indonesia — Kementerian Keuangan menyatakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada Januari 2020 sebesar Rp36,1 triliun. Defisit tersebut sebesar 0,21 persen berasal dari Produk Domestik Bruto (PDB).

    Realisasi defisit lebih rendah dari posisi Januari 2019. Tercatat, awal tahun lalu defisit APBN sebesar Rp45,1 triliun atau 0,29 persen dari PDB.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan peningkatan defisit terjadi karena realisasi penerimaan negara lebih rendah belanja negara. Pada Januari 2020, penerimaan negara baru mencapai Rp103,7 triliun atau hanya 4,6 persen dari target di APBN 2020 yang sebesar Rp2.233,2 triliun.

    Di sisi lain, belanja negara tercatat sebesar Rp139,8 triliun atau 6,5 persen dari target APBN 2020 yang sebesar Rp2.540,4 triliun. Dengan realisasi tersebut, belanja negara pada Januari 2020 turun dari periode yang sama tahun lalu sebesar 9,1 persen, sedangkan penerimaan negara turun 4,6 persen.

  • Makro

    Defisit APBN 2019 hingga bulan November mencapai Rp 368,9 triliun

    KONTAN.CO.ID –  JAKARTA.  Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 per akhir November 2019 telah mencapai Rp 368,9 triliun. Realisasi defisit anggaran tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 279,7 triliun.

    Secara persentase, defisit anggaran hingga November mencapai 2,29% terhadap produk domestik bruto (PDB). 

    Persentase defisit juga melebar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya di mana defisit hanya 1,89% dari PDB. Total pendapatan negara per akhir November mencapai Rp 1.677,1 triliun atau tumbuh 0,9%  year on year  (yoy). 

  • Makro

    Pembiayaan Utang Pemerintah Sentuh Rp442 T Sampai November

    Jakarta, CNN Indonesia — Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat total pembiayaan utang pemerintah hingga November 2019 mencapai Rp442 triliun. Angka itu di atas target pembiayaan tahun ini yang hanya Rp359 triliun.

    “Realilsasi pembiayaan sampai 30 November 2019 Rp442 triliun atau sudah di atas target pembiayaan tahun ini,” ucap Menteri Keuangan Sri Mulyani, Kamis (19/12).

    Catatan Kemenkeu memperlihatkan total pembiayaan utang setara dengan 123,3 persen terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pembiayaan tersebut juga naik 21,8 persen dibandingkan November 2018 lalu.

    “Realisasi pembiayaan utang ini karena ada front loading (penerbitan surat utang pada awal tahun). Jadi akhir tahun sudah fully funded,” kata Sri Mulyani.

  • Berita

    Menggantang Cuan Dari Transaksi Dagang Online

    Bisnis.com, JAKARTA — Perkembangan transaksi online turut mendatangkan pundi-pundi keuntungan bagi perbankan Tanah Air. Bahkan, pada masa mendatang tran­saksi daring ini bakal memberikan cuan yang lebih besar bagi bank.

    Dalam laporan e-Conomy 2019 oleh Google, Indonesia memiliki potensi transaksi digital yang besar. Laporan itu memprediksikan transaksi digital di Indonesia dapat mencapai US$41 miliar pada 2019.

    Penyumbang terbesarnya berasal dari transaksi dagang-el (e-commerce), yakni sebesar US$21 miliar. Penyumbang besar lainnya berasal dari transaksi online travel dan ride hailing, dengan nilai masing-masing sebesar US$10 miliar dan US$6 miliar.

    Masih dari laporan yang sama, transaksi digital di Indonesia pada 2025 diprediksi melonjak menjadi sebesar US$133 miliar. Segmen dagang-el tetap menjadi penopang terbesar dengan nilai US$82 miliar.

  • Finansial

    Ekonomi Lesu, OJK Masih Optimis Kredit Bisa Tumbuh 10 Persen

    Jakarta, CNN Indonesia — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih berharap pertumbuhan penyaluran kredit tahun ini bisa mencapai 10 persen meski pertumbuhan ekonomi lesu.

    Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal III 2019 cuma 5,02 persen atau melambat dari periode yang sama tahun lalu 5,17 persen.

    Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana optimistis target tersebut bisa tercapai meski di satu sisi ia melihat tekanan dari kondisi ekonomi global maupun domestik.

    Prediksi tersebut masih sejalan dengan target kenaikan penyaluran kredit yang dipatok OJK, yakni 9 persen-11 persen. Target itu sudah direvisi dari sebelumnya 10 persen-12 persen.

  • Makro

    Ekonomi Cuma Tumbuh 5,02 Persen pada Kuartal III 2019

    Jakarta, CNN Indonesia — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2019 cuma 5,02 persen secara tahunan. Realisasi tersebut melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, 5,17 persen. Capaian tersebut juga lebih rendah dari kuartal II 2019 yang mencapai 5,05 persen.

    Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan pertumbuhan ekonomi secara kuartal tercatat 3,06 persen. Angka tersebut juga melambat dibandingkan dengan kuartal III 2018 yang sebesar 3,09 persen.

    “Secara kumulatif ekonomi melambat karena kalau dibandingkan dengan kuartal II 2019 tumbuh 5,05 persen dan kuartal III 2018 sebesar 5,17 persen,” kata Suhariyanto di kantornya, Selasa (5/11).

    Ia mengatakan perlambatan ekonomi dalam negeri dipengaruhi oleh ketidakpastian global. Hal ini juga sejalan dengan perlambatan sejumlah negara lain, seperti Amerika Serikat (AS), Singapura, dan Korea Selatan.

  • Makro

    Kian Naik, Utang Pemerintah Tembus Rp4.680 T per Agustus

    Jakarta, CNN Indonesia — Kementerian Keuangan mencatat posisi utang mencapai Rp4.680,19 triliun per akhir Agustus 2019. Posisi ini meningkat 7,26 persen jika dibanding periode yang sama tahun lalu yakni Rp4.363,19 triliun.

    Mengutip data Kementerian Keuangan, utang tersebut didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN) dengan nilai Rp3.881,9 triliun atau meningkat 9,59 persen dibanding tahun lalu yakni Rp3.541,89 triliun. Sementara itu, sisa utang Rp798,28 triliun merupakan pinjaman biasa.

    Dengan posisi tersebut, artinya rasio utang pemerintah tercatat 29,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sejatinya, rasio ini menurun dibanding periode yang sama tahun lalu yakni 30,31 persen dari PDB.

    Posisi utang yang meningkat ini tak lepas dari peningkatan penarikan utang yang dilakukan pemerintah sepanjang tahun ini.

  • Makro

    Kuartal II, Defisit Transaksi Berjalan Bengkak Jadi US$8,4 M

    Jakarta, CNN Indonesia — Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan(current account deficit/CAD) pada kuartal II 2019 mencapai US$8,4 miliar atau 3 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Realisasi tersebut membengkak 21 persen jika dibandingkan kuartal I 2019, US$6,97 miliar. 

    Nilai CAD periode April-Juni 20019 juga melebar 6,2 persen dari periode yang sama tahun lalu yang tercatat US$7,95 miliar.

    “Defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal II 2019 melebar dipengaruhi perilaku musiman repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri, serta perekonomian global yang kurang menguntungkan,” ujar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam keterangan tertulisnya, dikutip Jumat (9/8).

    Onny mengungkapkan perlambatan perekonomian global membuat harga komoditas merosot. Akibatnya, secara tahunan, kinerja ekspor nonmigas Indonesia terseret 5,2 persen menjadi US$37,2 miliar.

    Defisit neraca perdagangan migas juga meningkat 14,3 persen menjadi US$3,2 miliar dari US$2,8 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Dibandingkan kuartal I 2019, US$2,2 miliar, defisit neraca perdagangan migas juga melebar 45 persen.

  • Makro

    Ekonomi RI Tertahan Konsumsi dan Gejolak Ekonomi Global

    Jakarta, CNN Indonesia — Ekonom menilai perlambatan pertumbuhan ekonomiIndonesia pada kuartal II 2019 lebih dipicu oleh konsumsi yang tertahan kondisi politik domestik disertai iklim ekonomi global yang sedang tak kondusif. 

    Aksi dan reaksi antara Amerika Serikat (AS) dan China dalam perang dagang kedua negara memberi sentimen negatif terhadap ekonomi negara-negara di dunia, termasuk Indonesia.

    Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2019 melambat dibanding kuartal I 2019, yaitu dari 5,07 persen menjadi 5,05 persen. Secara tahunan, laju ekonomi melambat dibanding periode yang sama tahun lalu yakni, 5,27 persen.

    Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan tren konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang untuk perekonomian domestik karena masih bertumbuh cukup baik. Tren konsumsi rumah tangga ini terbilang stagnan pada kuartal I dan II. 

  • Makro

    Penurunan Bunga BI Tak Cukup untuk Genjot Ekonomi

    Jakarta, CNN Indonesia — Bank Indonesia (BI) akhirnya memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen pada bulan ini. Penurunan bunga ini merupakan yang pertama sejak September 2017 dan diharapkan mampu menggenjot perekonomian di dalam negeri. 

    Apalagi, Kementerian Keuangan sebelumnya memproyeksi pertumbuhan ekonomi pada semester I tahun ini hanya mampu mencapai 5,1 persen, melambat dibanding periode yang sama tahun lalu 5,17 persen. Sejumlah data seperti ekspor dan impor juga mengalami perlambatan. Bahkan, angka penjualan mobil juga ikut menurun. 

    Berdasarkan data BPS, ekspor Indonesia sepanjang Januari-Juni 2019 tercatat US$80,32 miliar atau turun 8,57 persen dibanding periode yang sama tahun lalu US$87,88 miliar. Impor pada periode yang sama juga turun 7,63 persen menjadi US$82,26 miliar. 

Kunjungi Kami www.kjaanditagunawan.com
Stay tuned 
close-image