• Bank

    Adopsi Teknologi Kunci Perbankan Ciptakan Peluang Baru

    Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan konsultan manajemen internasional, McKinsey memperkirakan perbankan di Asia akan menghasilkan US$100 miliar pendapatan baru, jika mampu beradaptasi dengan teknologi, analisis data lanjutan, memiliki talent management, serta menjalankan kemitraan melalui merger dan akuisisi.

    Laporan tersebut memaparkan industri perbankan Asia saat ini menghadapi tantangan berat ketika menghadapi pertumbuhan ekonomi yang melambat. Bahkan, pelaku industri perbankan hanya memiliki dua pilihan yakni menciptakan kembali peluang atau bersiap menghadapi kepunahan.  

    Laporan yang dikutip, Rabu (12/2/2020) itu menunjukkan kecakapan teknologi finansial dalam menggaet konsumen lokal jauh lebih signifikan, sehingga menghambat kemampuan bank mengambil keuntungan.

  • Makro

    Naik 4 Persen, Aliran Investasi ke Asia Capai US$512 Miliar

    Jakarta, CNN Indonesia — Aliran investasi langsung asing (FDI) yang masuk ke negara-negara berkembang di Asia meningkat 3,9 persen menjadi US$ 512 miliar pada 2018.

    Hal itu diketahui dari hasil Laporan Investasi Dunia 2019 atau World Investment Report 2019 yang diterbitkan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD). UNCTAD merupakan badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang menangani isu perdagangan, investasi dan pembangunan.

    Pertumbuhan investasi terjadi terutama di China, Hong Kong, Singapura, Indonesia, dan negara-negara lain yang menjadi anggota PBB Asia Tenggara. Tak hanya itu, India dan Turki juga masuk dalam catatan.

    Wilayah Asia tetap menjadi penerima FDI terbesar di dunia, dengan menyerap 39 persen dari arus masuk global pada 2018, atau naik dari level serapan 2017 yang hanya 33 persen.

  • Finansial

    Perkasa di Asia, Rupiah Bisa ke Level Rp14.100

    JAKARTA — Rupiah menjadi mata uang dengan penguatan terbaik di Asia pada pekan pertama 2019 dan berpeluang ke level Rp14.100 per dolar AS.

    “Rupiah dibandingkan dengan Asia, baik itu India, Thailand, maupun Singapura, paling bagus [penguatannya]. Hal tersebut dikarenakan fundamental dalam negeri Indonesia baik sehingga ketika terdapat sentimen eksternal yang positif bisa meluncur dengan baik,” ujar Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim saat dihubungi Bisnis, Minggu (6/1/2019).

    Pada perdagangan hari pertama, rupiah dibuka menguat mencapai Rp14.390 terapresiasi 178 poin atau 1,23% dari penutupan perdagangan sebelumnya. Kemudian rupiah kembali bergerak fluktuatif akibat sentimen peluncuran data manufaktur Eropa dan sebagian besar negara-negara di Asia yang menunjukkan hasil tidak memuaskan.

Kunjungi Kami www.kjaanditagunawan.com
Stay tuned 
close-image