• Makro

    BI Catat Keyakinan Konsumen Menurun pada Januari 2020

    Jakarta, CNN Indonesia — Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) mengindikasikan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi melemah pada Januari 2020. Kondisi itu tercermin dari merosotnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menjadi 121,7 atau turun 3,7 persen dibandingkan Desember 2019.

    Melemahnya optimisme konsumen disebabkan oleh penurunan persepsi konsumen terhadap kondisi perekonomian saat ini dan ekspektasi kondisi ekonomi.

    Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turun 3,5 poin dari bulan sebelumnya menjadi 109,6. Penurunan juga terjadi pada Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) sebesar 5,9 poin menjadi 133,7.

    Kendati demikian, persepsi konsumen tetap berada di teritori positif karena masih di atas 100.

  • Bank

    BI Optimis Kredit Perbankan Tumbuh 10 hingga 12 Persen di 2020

    Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia optimis kredit perbankan mampu tumbuh di kisaran 10 hingga 12 persen pada 2020 setelah mengalami perlambatan pertumbuhan yang signifikan di 2019.

    Pertumbuhan kredit perbankan pada 2019 tercatat tumbuh 6,08 persen secara tahunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Di samping itu, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga juga tumbuh sebesar 6,54 persen.

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan kredit akan membaik sejalan dengan prospek peningkatan pertumbuhan ekonomi, termasuk pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dibidik di kisaran 8 sampai 10 persen. 

    “Suku bunga BI kan sudah turun, tapi suku bunga bank belum turun, penurunan itu yang akan mendorong kredit ke depan, relaksasi uang muka juga sudah dilakukan, injeksi likuiditas juga akan mendorong pertumbuhan kredit ke depan. Ini faktor supply yang kami relaksasi terus, nanti [kredit] akan didorong lagi oleh permintaan karena ekonomi naik,” kata Perry, Kamis (23/1/2019).

  • Makro

    BI Taksir Inflasi Capai 0,42 Persen pada Januari 2020

    Jakarta, CNN Indonesia — Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi mencapai 0,42 persen month to month (mtm) pada Januari 2020. Proyeksi itu lebih tinggi dari realisasi inflasi Januari 2018 sebesar 0,32 persen.

    Secara tahunan, inflasi pada bulan pertama tahun ini diperkirakan sebesar 2,82 persen year on year (yoy).

    Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan perhitungan tersebut berdasarkan survei pemantauan harga yang dilakukan hingga pekan keempat Januari.

    “Berdasarkan survei pemantauan harga hingga minggu keempat Januari, Bank Indonesia memperkirakan inflasinya 0,42 persen month to month. Kalau secara tahunan adalah 2,82 persen,” kata Perry di Kantor Pusat BI, Jakarta, Jumat (24/1).

  • Finansial

    BI Buka Peluang Pangkas Suku Bunga Acuan pada 2020

    Jakarta, CNN Indonesia — Bank Indonesia (BI) menyatakan ruang penurunan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (7DRR) masih terbuka sepanjang tahun ini. Namun, bank sentral belum bisa memastikan apakah kebijakan penurunan suku bunga acuan akan kembali dilakukan dalam waktu dekat.

    “Kalau ditanya ada ruang penurunan suku bunga acuan? Iya. Tapi apakah akan kami gunakan? Tunggu dulu. Kami akan update terus,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo, Kamis (23/1).

    Menurut Perry, bank sentral nasional perlu terus mengikuti perkembangan ekonomi global dan nasional dalam menentukan keputusan ini. Meski begitu, ia menekankan BI akan terus berusaha mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang akomodatif guna menstimulus laju ekonomi domestik.

  • Bank

    BI Diperkirakan Kembali Pangkas Suku Bunga Acuan

    Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia diperkirakan akan kembali memangkas suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur beberapa hari mendatang.

    Hal ini dikemukakan oleh Peneliti Ekonomi Senior Institut Kajian Strategis Universitas Kebangsaan Republik Indonesia, Eric Alexander Sugandi dalam laporan mingguan yang dikutip pada Senin (20/1/2020).

    Menurut Eric, Bank Indonesia (BI) diperkirakan kembali memotong suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) ke 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada bulan ini.

    Pemangkasan tersebut dimungkinkan karena nilai inflasi yang relatif rendah dan terkendali. Selain itu, tren pergerakan nilai tukar rupiah juga menunjukkan tren menguat selama Januari 2020.

  • Ekonomi Syariah

    BI Siap Terbitkan Instrumen Moneter Baru: Sukuk

    Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Indonesia (BI) siap menerbitkan instrumen berbasis syariah yakni sukuk. Hal ini dilakukan untuk memperkaya instrumen moneter kepada perbankan.

    “Alternatif sukuk, dalam waktu dekat kita bahas dalam RDG [Rapat Dewan Gubernur] itu. Itu untuk menambah likuiditas dan perkaya instrumen moneter,” ujar Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, Jumat (2/11/2018).

    Penerbitan sukuk oleh BI ini berbeda dengan pemerintah. BI menggunakan underlying SBSN (surat berharga syariah negara) yang telah dimiliki BI ketika buyback di pasar obligasi.

    “Ini yang BI punya diakumulasi. Tenornya bisa 1 tahun, 9 bulan, 6 bulan,” ungkap Perry.

    “BI akan perkaya instrumen syariah. Kan sudah diatur sertifikat deposito syariah yang bisa dipakai mobilisasi dana,” terangnya.

  • Makro

    BI Menilai Dosis Kebijakan Moneter yang Diberikan Sudah Pas

    Bisnis.com, JAKARTA — Meski sejumlah ekonom menilai tingkat kenaikan suku bunga acuan yang ditetapkan Bank Indonesia pada pekan lalu tidak cukup untuk meredam kondisi gejolak global yang ada, tetapi Bank Sentral masih mengelak.

    Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo mengatakan kenaikan 25 basis poin sudah menjadi keputusan yang cukup melihat banyak dukungan bauran kebijakan ekonomi lainnya.

  • Makro

    BI: Rupiah lemah bukan karena porsi kenaikan suku bunga kurang

    KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Usai Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih melemah. Senin (21/5), rupiah sempat menyentuh Rp 14.200 per dollar AS.

    Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, pelemahan rupiah sepenuhnya disebabkan oleh faktor eksternal. Dengan demikian, dalam hal ini porsi kenaikan suku bunga BI-7DRR tidak kurang,

    “Tidak (kurang). Kami melihat sekarang ini dengan menaikkan 25 bps, didukung bauran kebijakan yang lain, ini konsisten untuk menjaga stabilitas sistem keuangan Indonesia,” ujar Agus di kantor Kementerian Keuangan (Kemkeu), Senin (21/5) malam.

Kunjungi Kami www.kjaanditagunawan.com
Stay tuned 
close-image