Berita

Menggantang Cuan Dari Transaksi Dagang Online

Bisnis.com, JAKARTA — Perkembangan transaksi online turut mendatangkan pundi-pundi keuntungan bagi perbankan Tanah Air. Bahkan, pada masa mendatang tran­saksi daring ini bakal memberikan cuan yang lebih besar bagi bank.

Dalam laporan e-Conomy 2019 oleh Google, Indonesia memiliki potensi transaksi digital yang besar. Laporan itu memprediksikan transaksi digital di Indonesia dapat mencapai US$41 miliar pada 2019.

Penyumbang terbesarnya berasal dari transaksi dagang-el (e-commerce), yakni sebesar US$21 miliar. Penyumbang besar lainnya berasal dari transaksi online travel dan ride hailing, dengan nilai masing-masing sebesar US$10 miliar dan US$6 miliar.

Masih dari laporan yang sama, transaksi digital di Indonesia pada 2025 diprediksi melonjak menjadi sebesar US$133 miliar. Segmen dagang-el tetap menjadi penopang terbesar dengan nilai US$82 miliar.

SVP Transaction Banking Retail Sales Bank Mandiri Thomas Wahyudi mengatakan tranksaksi dagang-el secara tahun berjalan (year-to-date/ytd) sampai dengan September mencatatkan kenaikan frekuensi hampir 14 juta transaksi atau naik 26,3% dengan sales volume sekitar Rp12 triliun atau tumbuh 32,6%.

Sementara itu, transaksi mobile dan internet banking per Oktober 2019 telah mencatatkan kenaikan fre­kuensi 38,9% ytd menjadi Rp385 juta dengan volume pemasaran (sales volume) yang naik 32% ytd menjadi Rp747,7 triliun.

“Transaksi acquiring business e-com­mer­ce diperkirakan men­capai Rp17 triliun-Rp18 triliun pada akhir tahun ini terutama ditopang oleh program Harbolnas [hari belanja online nasional] dan program end of year,” katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

Sementara itu, mobile dan internet banking diperkirakan tembus Rp1.000 triliun, mengingat masih ada satu periode peak season di akhir tahun.

Perseroan sepakat menilai Harbolnas sebagai kegiatan belanja daring dengan ragam penawaran menariknya, positif dalam meningkatkan transaksi, khususnya untuk mendukung pelak­sanaan cashless society. Tak hanya itu, belanja daring juga menjadi sarana untuk mengedukasi masyarakat dalam bertransaksi digital.

“Dengan adanya kegiatan promo belanja online, masyarakat akan ter­dorong untuk mencoba melakukan pembelian barang di e-commerce hingga melakukan pembayaran secara,” ujarnya.

Thomas mengemukakan sejak gencarnya promo belanja daring bulanan pada akhir 2018 lalu, seperti promo 10.10, 11.11, hinga 12.12 pada transaksi dagang-el, membuat perseroan mencatatkan peningkatan hingga 45% dibandingkan dengan rerata transaksi bulanan pada semester I/2018.

Adapun, pada tahun ini diharapkan ada peningkatan transaksi daring terjadi sebesar 49% dibandingkan dengan 2018 atau sebesar 23 juta transaksi.

KARTU KREDIT

Thomas mengemukakan sebagian besar pembayaran transaksi daring melalui Bank Mandiri masih dilakukan menggunakan sumber kartu kredit. Perbandingan penggunaan kartu kredit dibanding debit Mandiri yaitu 70 : 30.

Sementara itu, mengutip laporan keuangan bank dengan sandi saham BMRI ini, hingga September 2019, volume pemasaran kartu kredit berhasil naik 20,4% (year-on-year/yoy) menjadi Rp13 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp10,8 triliun.

Sayangnya, pertumbuhan komisi dari bisnis kartu kredit perusahaan tercatat stagnan dengan pertumbuhan 0,6% yoy menjadi Rp1,6 triliun pada September 2019. Meski demikian, seca­ra ytd per September 2019 perseroan mencatat pertumbuhan penerbitan kartu kredit baru hingga 122%.

Bank lain, Direktur Teknologi Informasi dan Operasi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Dadang Setiabudi juga mengatakan bahwa dengan tren marketplace yang berlomba meraih pelanggan di Harbolnas yang pada tahun ini telah dilakukan tiga kali, tentunya BNI tidak melewatkan kesempatan ini.

BNI turut mengambil bagian da­lam persaingan pasar daring tersebut dengan menyediakan bebe­rapa metode pembayaran online, di antaranya melalui kartu kredit, kartu debit, virtual account, transfer smartpay maupun i-pay.

Perseroan mencatat, transaski pada periode promo Harbolnas dapat meningkat hingga 15% dengan volume tumbuh mencapai 10%.

Marketplace seperti Traveloka, Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Blibli, Tiket.com dan lainnya berlomba meraih customer untuk bertranskasi dengan Harbolnas, BNI tentu meng­ambil bagian dalam persaingan pasar online tersebut,” katanya.

Di samping meningkatnya transaksi nasabah, Dadang mengatakan BNI juga sangat fokus memberikan layanan me­­tode bayar kepada merchant online lainnya.

Perseroan mencatat perkembangan volume di merchant online tersebut men­­capai lebih dari 18% diban­ding­kan dengan periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi kinerja kartu kredit, bank dengan sandi saham BBNI ini mencatat sampai dengan September 2019, nilai tran­saksi kartu kredit mencapai lebih dari Rp30 triliun atau tumbuh 5,6% yoy.

General Manager Card Business Division PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Okki Rushartomo mengatakan transaksi travelling masih menjadi favorit pemegang kartu kredit perseroan dengan porsi mencapai 16% atau naik sekitar 10% yoy.

“Melihat pencapaian hingga September 2019, kami masih optimistis nilai transaksi kartu kredit BNI dapat tembus Rp40 triliun tahun ini atau naik 5%-6%,” katanya.

Okki mengemukakan untuk kuartal IV/2019, perseroan akan lebih banyak fokus di promo-promo tematik Harbolnas mulai dari 9.9 yang lalu hingga 12.12 mendatang.

Selain itu, promo taktikal bersama dengan mitra dagang-el perseroan seperti Tokopedia, Buka­lapak, Shopee, JD.ID, Blibli dan Lazada. Sementara itu, un­tuk promo travelling perse­roan akan lebih fokus bekerja sama dengan agen perjalanan online seperti Traveloka dan Tiket.com.

Sementara itu, Direktur PT Bank Cental Asia Tbk. Santoso Liem menga­takan transaksi daring berkem­bang sa­ngat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Santoso menyoroti, lantaran transaksi yang terjadi begitu besar saat Harbolnas, yang awalnya hanya ditetapkan pada 12.12, program tersebut dipecah menjadi beberapa periode dalam setahun.

Peningkatan ini pun turut berdampak pada transaksi BCA. Peningkatan yang signifikan salah satunya dari transaksi kartu kredit perseroan, di mana porsi transaksi dagang-el saat ini tercatat sebesar 20% dari total transaksi kartu kredit. “Dalam setahun 20% ini meningkat cepat, kami sudah prediksikan tran­sak­si di e-commerce akan tinggi dan kalau diamati akan tetap naik,” tuturnya.

Santoso menam­bahkan, jika dibandingkan dengan transaksi di merchant secara luring, pertumbuhan transaksi secara daring meningkat lebih kencang. Jika rata-rata transaksi di merchant luring tumbuh 10%, transaksi daring dapat meningkat hingga 50%.

Sumber: Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kunjungi Kami www.kjaanditagunawan.com
Stay tuned 
close-image