Bank

Makin ramai, bank hingga fintech kolaborasi berebut pasar digital

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pandemi Covid-19 yang sudah terjadi sejak tahun lalu membuat industri keuangan bergerak maju dan terus mengoptimalkan layanan serta teknologi digital. Terlebih pandemi ini membuat budaya transaksi masyarakat bergeser ke arah non konvensional alias digital. 

Kondisi ini pula yang membuat perbankan berlomba untuk memperkuat teknologi, dengan maksud menjaring nasabah dengan lebih efisien. Apalagi, saat ini persaingan semakin ketat dengan telah dikeluarkannya aturan main oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam pembentukan bank digital. 

Di samping itu, ketatnya persaingan juga dimeriahkan dengan semakin ekspansifnya perusahaan teknologi finansial maupun dompet elektronik ke ranah pembiayaan. Mulai dari peer to peer lending hingga fitur pay later yang mulai disematkan beberapa penyedia layanan pembayaran digital.

Hal semacam ini yang memicu bank untuk berlari lebih kencang untuk meluncurkan layanan digital. PT Bank Jago Tbk misalnya yang telah meluncurkan aplikasi pengelola keuangan digital bertajuk Jago Apps per kamis (15/4). 

Direktur Utama Bank Jago Kharim Indra Gupta Siregar bahkan menjelaskan pihaknya tengah merancang beberapa layanan tambahan untuk aplikasi Jago. Salah satunya terkait kolaborasi perusahaan dengan PT Dompet Karya Anak Bangsa (Go-Pay) milik Gojek. 

Asal tahu saja, Gojek pada akhir tahun 2020 lalu memang telah membeli 22% saham Bank Jago. Rencana ekspansi digital kedua perusahaan ini sudah digaungkan sejak lama. 

Kharim membenarkan jika pihaknya memang sudah menjalin kemitraan strategis dengan Gojek. “Saat ini integrasi produk antara Jago dan Gojek telah berada di tahap lanjut. Layanan ini akan tersedia dalam waktu singkat, setelah semua prosesnya rampung,” kata dia saat peluncuran Jago App, Kamis (15/4).

Bank bersandi bursa ARTO ini mengungkapkan kalau integrasi tersebut nantinya akan berkontribusi besar dalam menghadirkan kenyamanan bagi konsumen dan mengatasi persoalan sehari-hari yang sering dihadapi nasabah bank serta pengguna uang elektronik. 

Upaya ekspansi Bank Jago dalam setahun terakhir memang cukup kencang. Kabar terbaru, bank bersandi bursa ARTO ini bahkan dikabarkan bakal mengakuisisi PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN). 

Setidaknya, menurut sumber Kontan.co.id, Bank jago berniat mengambil alih BFI Finance melalui pemegang saham pengendali, yakni Trinugraha Capital & Co Sca. Pasalnya, saat ini kepemilikan saham BFI memang dipegang oleh Trunugraha Capital sebesar 42,81% dari total saham. Sementara sisanya dimiliki oleh NT Asian Discovery Fund sebanyak 8,25% dan BFI Finance Indonesia 6,28% dan sisanya dimiliki publik atau sebesar 42,66%. 

Menanggapi pemberitaan tersebut, Direktur BFI Finance Indonesia Sudjono dalam keterbukaannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (16/4) mengungkap sampai saat ini pihaknya tidak mengetahui adanya informasi perihal rencana akuisisi tersebut. 

Sederhananya, pihak BFI Finance tidak mengiyakan atau menyanggah kabar tersebut. “Perseroan tidak dapat mengklarifikasi kebenaran berita tersebut,” ungkapnya. 

Sebelumnya, pihak Bank Jago memang sempat menyebut kalau pihaknya punya rencana untuk berkolaborasi dengan beberapa perusahaan finansial. Hanya saja, Kharim menyebut beberapa yang akan digandeng merupakan perusahaan tekfin terutama yang bergerak di bidang pembiayaan. “Saat ini kami bekerjasama dengan ekosistem digital. Bentuknya, Bank Jago memberikan pendanaannya untuk disalurkan ke dalam bentuk pinjaman (channeling),” ungkap Kharim belum lama ini. 

Dia juga tidak menampik, bahwa sebagai perbankan tentu arah pengembangan bisnis bakal masuk ke kredit. Hanya saja, Bank Jago belum merinci kapan layanan tersebut akan tersedia secara digital. 

Beberapa perusahaan finansial pun nampaknya tidak mau ketinggalan momentum tersebut. Salah satunya PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) yang sempat disebut-sebut punya rencana kolaborasi dengan PT Visioner Internasional, pemilik dompet digital OVO. 

Akhir bulan lalu, OVO santer diperbincangkan bakal menggeser sejumlah pejabatnya ke Bank Capital. Namun, Direktur Utama Bank Capital Wahyu Dwi Aji menyampaikan pihaknya tidak mengetahui adanya informasi tersebut. 

Hal itu disematkan Wahyu dalam keterbukaan informasi kepada BEI (30/3) lalu. “Perseroan tidak mengetahui adanya informasi tersebut dan eksekutif dari PT Visionet Internasional tidak hijrah ke PT Bank Capital Indonesia Tbk,” paparnya.

Gaung rencana ekspansi digital Bank Capital memang sudah terdengar sejak lama. Kontan mencatat dalam artikel yang dimuat (9/3) lalu, Bank Capital sempat dikabarkan akan dicaplok oleh perusahaan teknologi unicorn. Hanya saja, pihak perusahaan menepis pernyataan tersebut. “Berkenaan dengan itu (akuisisi oleh salah satu unicorn), saya pikir karena bersifat rahasia, kita tunggu tanggal mainnya saja,” kata Wahyu beberapa waktu lalu.

Yang jelas, Bank Capital menyatakan bakal melakukan transformasi dari bank tradisional menjadi bank digital. Perseroan bahkan menyatakan sejak 2020 lalu perusahaan telah menyetop dan menyelesaikan kredit.  

Terlihat dari penurunan penyaluran kredit 34,05% yoy dari Rp 6,43 triliun menjadi Rp 9,75 triliun di 2020. Hal ini dilakukan lantaran bank menyasar sektor konsumtif pada tahun ini dengan pendekatan bisnis secara digital.

Agar bisa menjadi bank digital, bank dengan sandi saham BACA ini akan melakukan penguatan modal. Seiring untuk memenuhi ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar bank memiliki modal inti minimum Rp 2 triliun di 2021 lalu paling sedikit Rp 3 triliun di 2022. 

“Tambah modal sesuai arahan OJK akan dilakukan paling telat pada kuartal keempat 2021 dengan cara rights issue senilai Rp 2 triliun dan penerbitan obligasi subordinasi sebesar Rp 700 miliar. Sehingga target modal inti minimum 2022 bisa terpenuhi,” jelas Wahyu. 

Akan tetapi, Bank Capital dalam presentasi perusahaannya memang punya rencana transformasi digital di tahun ini. Namun, dalam bentuk persiapan metode pembayaran menggunakan QR Indonesian Standard (QRIS) dan transaksi non kartu (cardless). 

Tidak cuma bank kecil saja, persaingan digital ini juga diperketat dengan kehadiran bank-bank raksasa di sektor digital. Sebut saja, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang akan memperkenalkan anak usaha yang menjalankan bisnis bank digital secara penuh melalui PT Bank BCA Digital.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja bilang anak perusahaan ini memang disiapkan khusus menggarap segmen milenial yang terbilang digital savvy

“Prioritasnya di sini pasarnya milenial yang akan menjadi nasabah digital bank ini. Pertama kita akan kembangkan di sisi funding (himpunan dana) dan payment (pembayaran) sebagai dasarnya. Lalu baru ke melakukan lending (kredit),” papar Jahja pekan lalu. 

Pihaknya melanjutkan, dalam menggarap bisnis lending ini, BCA harus melakukan pengajian. Lantaran bisnis perbankan berbeda dengan peer to peer (P2P) lending yang relatif cepat memberikan pinjaman dengan bunga relatif tinggi. Ia melanjutkan, dalam menggarap bisnis lending ini, BCA harus melakukan pengajian. Lantaran bisnis perbankan berbeda dengan peer to peer (P2P) lending yang relatif cepat memberikan pinjaman dengan bunga relatif tinggi.

Ia menilai dalam menggarap bank digital secara penuh dibutuhkan institusi yang kuat di belakangnya dalam mengembangkan ekosistem digital. Selain itu dibutuhkan dukungan modal agar bisa ikut berkompetisi di ranah yang memiliki persaingan ketat. 

Bank besar lain juga berupaya mengembangkan layanan digital eksisting menjadi super apps. Terbaru, ada PT Bank CIMB Niaga Tbk lewat aplikasi Octo Mobile. 

Head of Digital Banking, Branchless, and Partnership CIMB Niaga Bambang Karsono Adi menjelaskan saat ini aplikasi milik perseroan sudah memiliki 70 lebih fitur. Mulai dari fitur pembelian surat berharga negara ritel pembayaran pajak kendaraan bermotor, hingga pembayaran tagihan kepada 49 perusahaan daerah air minum.

CIMB Niaga juga sudah memiliki layanan on boarding atau pembukaan rekening secara digital lewat aplikasi. Sejauh ini menurut Bambang peningkatannya pun cukup masif dengan kenaikan pembukaan rekening sebesar 43% di tahun 2020.

Sementara itu, transaksi di aplikasi Octo Mobile di tahun 2020 lalu sudah naik 50% secara tahunan. Bahkan, di kuartal I 2021 transaksinya sudah menunjukkan tren kenaikan. “Tahun ini di quarter pertama sudah mencapai 38 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” katanya. 

Bambang mengatakan, jumlah transaksi nasabah melalui OCTO MObile pada 2020 mencapai 50 juta kali. Sedangkan pada kuartal I-2021, jumlah transaksi sudah tercatat mencapai 6,4 juta. Dengan kinerja awal tahun yang meyakinkan, CIMB Niaga menargetkan jumlah transaksi melalui aplikasi ini bertambah puluhan juta unit. “Targetnya 72 juta-75 juta transaksi,” kata dia.

Tentunya, ke depan perseroan berencana untuk memperkuat dan menambah beragam layanan bagi nasabah. Hal ini sejalan dengan upaya CIMB Niaga untuk memberikan customer experience yang positif di setiap channel layanan. Sehingga kepuasan dan loyalitas nasabah terus terjaga.

Sumber: Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kunjungi Kami www.kjaanditagunawan.com
Stay tuned 
close-image