UKM

Layanan Keuangan Formal, Solusi UMKM Lepas dari Rentenir

Jakarta, CNN Indonesia — 

BRI menyatakan jaminan pemenuhan kebutuhan keuangan yang cepat, mudah, dan murah menjadi kebutuhan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dari layanan keuangan formal. Selain itu, UMKM juga membutuhkan ekosistem yang baik dan terkoordinasi demi memutus rantai ketergantungan pelaku usaha terhadap rentenir.

Berdasarkan data yang dihimpun BRI, dari Kementerian Koperasi dan UKM, saat ini jumlah pelaku UMKM di Indonesia mencapai 57 juta, dan baru 15 juta di antaranya yang mendapat layanan keuangan formal (bank, tekfin, perusahaan gadai).

Sisanya, 30 juta pelaku UMKM masih mendapat layanan keuangan dari rentenir atau mengandalkan bantuan kerabat, sementara 18 juta pelaku UMKM belum terlayani lembaga keuangan formal dan informal.

Direktur Utama BRI Sunarso pada acara webinar yang bertajuk “Prospek BUMN 2021 Sebagai Lokomotif PEN dan Sovereign Wealth Fund” yang diselenggarakan Universitas Indonesia, Kamis (4/3/) menegaskan bahwa UMKM membutuhkan kecepatan dan kemudahan proses kredit. 

Ia mencontohkan, peminjam yang membutuhkan uang Rp5 juta tidak bermasalah jika mendapat bunga 5-10 persen, asalkan proses kreditnya cepat.

“Untuk menggerakkan ini, kita bangun ekosistem UMKM yang bisa menyasar 18 juta (pelaku UMKM unbankable), lalu memindahkan (pelaku UMKM pengguna jasa) rentenir ke lembaga pembiayaan formal. Dengan cara kerja cepat dan mudah-lah transformasi yang dilakukan oleh BRI,” ujar Sunarso.

Menurut Sunarso, penyaluran tiga jenis stimulus dari pemerintah selama ini, yakni government spending, government investment dan government guarantee, sebenarnya sudah cukup membantu menggerakkan perekonomian nasional dan pelaku UMKM.

Akan tetapi, menurutnya, ada empat faktor yang harus dipenuhi demi menjamin lancarnya penyaluran berbagai stimulus itu.

Pertama, sumber dana harus terjamin. Kedua, data penerima wajib terjamin. Ketiga, sistem penyaluran yang kredibel. Keempat, sumber daya manusia untuk sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat.

Sunarso berkata, selama ini BRI sudah membantu menyediakan tiga dari empat faktor kunci penyaluran stimulus tersebut. 

Pada akhir 2020 lalu, BRI berhasil merestrukturisasi pinjaman mencapai Rp186,6 triliun untuk 2,8 juta nasabah. Subsidi bunga senilai Rp.4,7 triliun juga sudah disalurkan BRI untuk 6,57 juta debitur.

Setelah itu, BRI membantu penyaluran BPUM dengan nilai total Rp18,6 triliun untuk 7,7 juta pelaku usaha mikro. KUR Super Mikro ini disalurkan dengan nilai mencapai Rp8,66 triliun untuk 986 ribu penerima, sementara subsidi gaji mencapai Rp6,45 triliun untuk 5,38 juta penerima.

Ke depannya, BRI optimistis penyaluran kredit dan layanan keuangan bagi UMKM serta masyarakat bisa terus tumbuh. Syaratnya, harus ada sinergi dan kerjasama yang dibangun untuk mendorong terciptanya permintaan kredit dari masyarakat.

“Hal paling penting adalah memulihkan (perekonomian) jangan bergantung (stimulus) terus menerus. Perlu dilakukan orkestrasi dari berbagai faktor untuk mendorong pertumbuhan kredit sehingga bisa mendorong pertumbuhan GDP atau ekonomi,” kata Sunarso.(vws)

Sumber: Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kunjungi Kami www.kjaanditagunawan.com
Stay tuned 
close-image