Artikel

LAPORAN LABA RUGI KOMPREHENSIF DAN LAPORAN ARUS KAS (Bagian Pertama)

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini, diharapkan mahasiswa dapat:

  1. Memahami tujuan dan kegunaan laporan laba rugi komprehensif;
  2. Menyadari keterbatasan laporan laba rugi;
  3. Mengenal unsur laporan laba rugi komprehensif;
  4. Mengenal bentuk penyajian laporan laba rugi komprehensif;
  5. Memahami metode penyajian beban;
  6. Memahami tujuan dan manfaat laporan arus kas;
  7. Mengenal penggolongan sumber dan penggunaan arus kas; dan
  8. Mengenal metode penyusunan laporan arus kas.

Rujukan

  • Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
  • PSAK 1 (2014) Penyajian Laporan Keuangan
  • PSAK 2 (2014) Laporan Arus Kas
  • PSAK 3 (2014) Laporan Keuangan Interim
  • PSAK 23 (2014) Pendapatan
  • PSAK 56 (2014) Laba per Saham
  • Peraturan Bapepam dan LK No. VIII.G.7 Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten dan Perusahaan Publik

Bagi suatu entitas yang bertujuan memperoleh laba, pengukuran dan evaluasi atas kinerja terutama terpusat pada laba yang dihasilkan atau kerugian yang diderita selama suatu periode tertentu. Laporan laba rugi komprehensif adalah salah satu komponen utama laporan keuangan yang wajib disusun oleh suatu entitas. Perhitungan laba rugi sangat tergantung dari waktu dan cara pengakuan serta pengukuran penghasilan (income) baik pendapatan (revenue) maupun keuntungan (gain), serta beban (expense).

Perbedaan waktu pengakuan atau pemilihan metode pengakuan dan pengukuran akan menghasilkan perhitungan yang berbeda. Akuntansi keuangan menyusun laporan laba rugi komprehensif untuk digunakan para pemangku kepentingan (stakeholders) berdasarkan   pengakuan dan pengukuran   unsur   unsur   penghasilan, pendapatan (revenue) atau keuntungan (gain), beban (expenses) serta kerugian (loss) sesuai Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang berlaku. Namun perlu disadari bahwa alternative yang seringkali tersedia untuk dipilih, pertentangan antar keandalan dan kegunaan informasi, serta perkembangan SAK yang sangat pesat dan dinamis serta memerlukan pemahaman tersendiri dalam menggunakan  laporan laba rugi komprehensif dalam pengambilan keputusan, agar tidak tersesat.

Laporan Laba Rugi Komprehensif

Tujuan dan Kegunaan Laporan Laba Rugi Komprehensif

Istilah Laporan Laba Rugi Komprehensif (Statement of Comprehensive Income) mulai digunakan sejak diberlakukannya PSAK 1dalam rangka konvergensi dengan IFRS, yang merupakan adopsi dari IAS 1 (2012) Presentation of Financial Statements.

Tujuan penyusunan laporan laba rugi komprehensif adalah untuk memberikan informasi tentang kinerja keuangan entitas selama suatu periode usaha tertentu, yaitu laba rugi, komposisi, dan rincian penghasilan (pendapatan dan keuntungan) dan beban serta pendapatan komprehensif lain yang berguna untuk menghitung atau menganalisis profitabilitas, efisiensi, pengembalian investasi (return on investment), laba persaham (earning spershare),serta ramalan tentang kemampuan arus kasentitas tersebut.

Kegunaan laporan laba rugi komprehensif dapat disimpulkan terutama untuk hal-hal sebagai berikut:

  1. Melaporkan dan mempertanggungjawabkan kinerja entitas selama suatu periode usaha tertentu.

Laba yang dihasilkan atau rugi yang diderita suatu entitas selama suatu periode usaha tertentu adalah ukuran terpenting atas kinerja suatu entitas. Para pemangku kepentingan (stakeholders) sangat berkepentingan atas laba rugi suatu entitas. Laporan laba rugi merupakan salah satu laporan penting dalam rangka pertanggunganjawab manajemen kepada para pemangku kepentingan, khususnya para pemegang saham, atas kepercayaan yang diberikan untuk mengelola entitas. Berbagai keputusan akan didasarkan atau tergantung pada hasil perhitungan laba rugi, antara lain: keputusan pembagian dividen dalam suatu rapat umum pemegang saham, evaluasi kinerja manajemen serta penentuan bonus kepada manajemen, penetapan strategi dan kebijakan investasi dan operasi entitas, keputusan investor untuk membeli atau menjual surat berharga yang diterbitkan entitas, serta pertimbangan kreditor untuk memberikan pinjaman kepada suatu entitas.

  • Memberikan informasi penting sebagai landasan penyusunan rencana akan datang.

Penyusunan rencana masa depan haruslah didasarkan  atas catatan dan kinerja masa lalu. Selain perencanaan kegiatan usaha, juga perencanaan atau analisis kemampuan arus kas dimasa yang akan dating sangat tergantung pada laporan laba rugi periode sebelumnya.

  • Mengantisipasi risiko yang mungkin timbul dimasa depan.

Laporan laba rugi komprehensif yang disusun berdasarkan standar akuntansi yang berlaku, diharapkan akan mampu memberikan informasi tentang risiko atau ancaman yang mungkin timbul terhadap usaha entitas serta kemampuannya dalam menghasilkan arus kas.

Kerbatasan Laporan Laba Rugi Komprehensif

Suatu entitas ketika didirikan tentunya dengan harapan akan dirgahayu, artinya mampu bertahan dan berkembang untuk waktu yang tidak terbatas. Salah satu asumsi dasar yang mendasari penyusunan laporan keuangan berdasarkan SAK adalah kelangsungan usaha (going concern), yaitu diasumsikan entitas akan berusaha terus dalam waktu yang tak terbatas. Sedangkan evaluasi atas kinerja perusahaan tentunya tidak mungkin ditunggu sampai entitas tersebut berhenti berusaha atau dilikuidasi baru dilakukan perhitungan dan pelaporan tentang kinerja. Untuk mengevaluasi kinerja entitas secara berkala perlu disusun laporan laba rugi komprehensif. Lazimnya disusun laporan tahunan, dan untuk memenuhi kebutuhan informasi yang lebih mutahir seringkali juga disusun laporan interim: tengah tahunan, triwulanan, dan bulanan.

Penentuan batas (cut-off) dalam perhitungan pendapatan dan beban untuk dilaporkan pada suatu laporan laba rugi komprehensif adalah sangat penting agar laporan laba rugi komprehensif dapat menyajikan informasi secara akurat dan tidak menyesatkan. Laporan keuangan yang disusun berdasarkan SAK untuk tujuan umum mengandung beberapa keterbatasan yang perlu dipahami oleh pengguna laporan. Antara lain dapat disebutkan:

  1. Beberapa konsep dasar yang mendasari penyusunan SAK membawa dampak perhitungan laba rugi tidak atau kurang dapat mencerminkan keadaan. Penggunaan biaya historis dalam perhitungan harga pokok penjualan dalam keadaan  fluktuasi  harga  atau tingkat  inflasi yang   cukup  signifikan,  dapat mengakibatkan  hasil perhitungan  laba  rugi  menjadi  kurang  mencerminkan kenyataan  sebenarnya. Hal tersebut  terutama  dapat terjadi bila  perputaran persediaan barang dagang dan bahan baku agak lambat.
  2. Perhitungan dan pelaporan akuntansi banyak menggunakan asumsi dan estimasi yang kadang-kadang belum tentu tepat.

Perhitungan beban penyusutan aset tetap didasarkan atas asumsi, antara lain, umur teknis dan ekonomis aset. Misalnya suatu pabrik tekstil yang semula menaksir umur teknis dan ekonomis seperangkat mesin adalah 10 tahun, mungkin saja setelah lima tahun sudah tidak produktif lagi secara teknis dan atau ekonomis. Hal tersebut mungkin dapat terjadi karena taksiran semula salah, perawatan yang kurang baik sehingga memperpendek umur teknis, perkembangan teknologi atau perubahan selera konsumen yang berpengaruh atas umur ekonomi mesin. Begitupun penyisihan atas piutang tak tertagih lazimnya didasarkan atas taksiran. Metode dan asumsi yang digunakan dalam perhitungan penyusutan atau penyisihan piutang tak tertagih jelasakan berpengaruh atas perhitungan laba rugi. Namun, keterbatasan ini sudah dicoba untuk dieliminasi, misalnya dalam PSAK 16 (2014) Aset Tetap, entitas diwajibkan untuk melakukan evaluasi atas estimasi masa manfaat, nilai residu dengan metode penyusutan yang digunakan, minimal setiap pelaporan keuangan, maka nilai yang diestimasi menjadi lebih andal.

  • Untuk industri tertentu perhitungan dan pelaporan penghasilan dan pendapatan juga harus dilakukan berdasarkan asumsi dan taksiran.

Penentuan asumsi dan pemilihan metode taksiran jelas sangat berdampak hasil perhitungan laba rugi, misalnya untuk penjualan cicilan, pekerjaan konsumsi, dan lain-lain.

  • Beberapa unsur yang tak dapat ditaksir dengan andal kepastiannya sering luput diperhitungkan atau disajikan dalam laporan laba rugi komprehen

Belum adanya kepastian keuntungan atau kerugian yang  timbul dari investasi efek, penghasilan atau kerugian yang terkait dengan suatu liabilitas kontinjensi, lazimnya luput dalam perhitungan laba rugi.

  • Laporan Keuangan adalah sekedar cerminan masa lalu.

Laporan keuangan yang disusun berdasarkan SAK yang berlaku umum dalam rangka pertanggunganjawab manajemen kepada para pemangku kepentingan (stakeholders) adalah laporan tentang masa yang telah lalu. Semakin lama waktu penggunaan dan semakin dinamis perubahan keadaan, maka akan semakin kurang daya guna untuk perencanaan.

Bersambung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kunjungi Kami www.kjaanditagunawan.com
Stay tuned 
close-image