Makro

Inflasi Januari Diprediksi Stabil

Bisnis.com, JAKARTA — Tingkat inflasi pada Januari 2020 diprediksi rendah dan tetap stabil, meskipun ada gejolak harga bahan pokok akibat bencana banjir yang melanda ibu kota dan beberapa wilayah di Tanah Air pada awal tahun.

Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengatakan faktor utama pendorong inflasi dipengaruhi oleh penurunan pasokan komoditas pangan seiring dengan peningkatan curah hujan secara nasional.

“Inflasi bulan Januari 2020 diperkirakan meningkat sebesar 0,42 persen [month-to-month/mom] yang tercatat 0,34 persen [mom],” katanya ketika dihubungi Bisnis, Jumat (31/1).

Dengan mempertimbangkan penyesuaian tahun dasar baru (2018) pada inflasi, dia memperkirakan inflasi tahunan per bulan Januari mencapai 2,66 persen (yoy) dari bulan sebelumnya yang tercatat 2,72 persen (yoy).

Menurutnya, inflasi Januari lebih didominasi oleh peningkatan inflasi harga bergejolak dan inflasi harga diatur pemerintah.

Dia menuturkan, inflasi didorong kenaikan beberapa harga komoditas pangan, antara lain beras, bawang merah, bawang putih, cabai merah, dan cabai rawit.

Lebih lanjut, inflasi harga diperkirakan meningkat sejalan dengan kenaikan tarif cukai rokok serta iuran BJPS.

“Adapun, inflasi inti cenderung stabil di kisaran 3,02 persen (yoy) mempertimbangkan tren kenaikan harga emas, sedangkan nilai tukar rupiah cenderung mengalami apresiasi sepanjang Januari,” ungkapnya.

Sementara itu, Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David E. Sumual memprediksi inflasi Januari 2020 tercatat rendah, tetapi stabil. Hal itu dikarenakan adanya bencana dan cuaca.

“Kami memprediksi inflasi pada Januari 2020 berkisar di angka 0,47 persen. Adanya banjir dan cuaca buruk akan berdampak pada harga bahan pokok di pasar,” katanya.

Menurutnya, beberapa bahan pokok yang berkontribusi terhadap inflasi, antara lain cabai merah dan bawang merah.

Sementara itu, komoditas beras tidak terlalu menyumbang inflasi karena harga di pasar cenderung stabil.

Meski demikian, dia mengingatkan pemerintah untuk menstabilkan gejolak harga bahan pangan dengan cara memperbaiki jalur distribusi saat terjadi bencana atau cuaca buruk.

Dia menilai inflasi akan bergerak seiring dengan menguatnya nilai tukar rupiah. “Penguatan rupiah terhadap dolar Amerika berpengaruh positif pada inflasi,” jelasnya.

Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro mengatakan basis inflasi Indonesia akan menjadi tolok ukur untuk 2018 karena Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan pembaruan rutin setiap tahun.

Pada 2020, Indonesia akan menggunakan 835 komoditas dengan proporsi 33 persen—67 persen antara makanan-bukan makanan. Adapun sebelumnya adalah 35 persen—65 persen.

KERANJANG BARU

Keranjang inflasi baru memasukkan kontribusi layanan penitipan anak (day care), layanan karaoke, dan transportasi online (Gojek dan Grab).

“Rencana Kementerian Perhubungan untuk menaikkan tarif online dua roda menjadi Rp2.500 per kilometer, dari sebelumnya Rp2.000, juga dapat mendorong inflasi harga,” lanjut Satria.

Selain itu, dia juga memprediksi implementasi aturan kenaikan cukai rokok sebesar 23 persen pada awal 2020 akan berdampak signifikan terhadap pergerakan inflasi.

Satria memperkirakan kenaikan cukai rokok 23 persen dapat menambah inflasi sebesar 0,30 persen—0,45 persen pada 2020.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi minggu keempat bulan Januari sebesar 0,42 persen (month to month) dan 2,82 persen (year on year).

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan inflasi minggu keempat Januari ini lebih rendah dari rata-rata inflasi pada periode yang sama dalam lima tahun terakhir yakni sebesar 0,64 persen.

“Nah, tekanan harga [inflasi] karena pengaruh musim hujan ke panen bawang, cabai, beras, dan sayuran,” ujar Perry.

Sementara itu, deflasi disumbang oleh penurunan harga angkutan udara, bensin dan daging ayam. Dengan pergerakan inflasi tersebut, Perry menyebutkan, Bank Indonesia meyakini target sasaran inflasi tahun ini, 2 persen—4 persen, akan tercapai.

Perry menambahkan tekanan inflasi volatile food juga berkurang dipengaruhi sinergi kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) sehingga dapat mengurangi tekanan gejolak harga pangan saat terjadi kenaikan permintaan dan/atau penurunan pasokan.

Sementara itu, inflasi administered prices tercatat rendah sejalan minimalnya kebijakan terkait tarif dan harga barang dan jasa yang diatur Pemerintah.

Ke depan, Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga sehingga inflasi IHK 2020 tetap terjaga dalam kisaran sasarannya sebesar 2,0 persen—4 persen.

Sumber: Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kunjungi Kami www.kjaanditagunawan.com
Stay tuned 
close-image