Berita

Enam kasus gagal bayar di provinsi terkaya China bikin investor was-was

KONTAN.CO.ID – BEIJING. Enam perusahaan swasta di salah satu provinsi terkaya di China mengalami gagal bayar (default) atas utangnya dalam tiga bulan terakhir. Dengan jumlah utang keenam perusahaan mencapai 68,1 miliar yuan (US$ 9,7 miliar), kesulitan di Shandong telah mengguncang investor berpengalaman sekalipun.

Melansir Bloomberg, masalahnya bukan tentang default itu sendiri -provinsi lain telah mengalami kondisi yang lebih buruk. Ini adalah praktik umum di antara perusahaan Shandong untuk menjamin utang satu sama lain. Perusahaan tidak harus mengumumkan kewajiban ini kepada publik, sehingga membuat investor bertanya-tanya siapa yang terlibat dan berapa banyak nilai utang tersebut.

Padahal, perekonomian industri provinsi ini begitu kuatnya. Namun, kuatnya ikatan antar perusahaan swasta provinsi Shandong mengancam untuk menyeret turun mereka semua bersama-sama.

Ini adalah salah satu dari banyak tantangan yang harus dihadapi para investor obligasi di China saat ini. Kasus gagal bayar di China daratan mengalami lonjakan dari sebelumnya nol beberapa tahun yang lalu, menjadi 126,7 miliar yuan (US$ 18 miliar) pada tahun 2019.

Di Shandong dan di tempat lain, masih tidak jelas bagaimana pemerintah akan melakukan aksi campur tangan atas permasalahan ini. Para pembuat kebijakan bersedia membiarkan perusahaan-perusahaan yang lemah untuk gagal bayar. Akan tetapi mereka juga di bawah tekanan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan pasar stabil.

Berdasarkan laporan Fitch Ratings yang dirilis 3 Desember lalu seperti yang dikutip Bloomberg, tingkat default untuk obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan swasta di seluruh China meningkat ke rekor tertingginya di level 4,5% dalam 10 bulan pertama tahun 2019.  Fitch juga menambahkan bahwa angka tersebut mungkin lebih rendah dari tingkat default yang sebenarnya.

Pasalnya, beberapa peminjam menyelesaikan dengan pemegang obligasi secara pribadi daripada melalui rumah kliring. Sementara, lanjut Fitch, tingkat default untuk perusahaan milik negara hanya 0,2% berkat dukungan keuangan dari pemerintah dan akses yang lebih baik untuk pendanaan dari bank.

Sampai saat ini, pemerintah kota dan lokal Shandong telah memberikan sedikit bantuan. Tidak pasti apakah pemerintah provinsi akan melakukan hal yang sama. Akibatnya, “Perusahaan provinsi berisiko memasuki lingkaran setan yang “menyebarkan risiko solvabilitas ke seluruh wilayah, membanjiri kredit baik bersama dengan yang buruk,” demikian menurut laporan S&P Global Ratings yang dirilis Oktober lalu.

Di Shandong, kekhawatiran penularan default muncul dengan cara yang tidak biasa. Pada akhir Oktober, berita buruk tentang konglomerat jagung dan baja di provinsi itu menyeret turun harga obligasi dari setidaknya dua tetangga provinsi yang tampaknya tidak terkait.

Produsen aluminium China Hongqiao Group Ltd dan distributor makanan Shandong Sanxing Group dikenal luas kerap mendukung utang perusahaan lain. Investor cemas, mereka akan ikut bertanggung jawab atas kasus ini sehingga turut menyeret obligasi perusahaan ke rekor terendah.

Hongqiao berusaha meyakinkan kreditornya, dengan mengatakan tidak memiliki hubungan bisnis dengan grup dan tidak berencana untuk menawarkan dukungan finansial apa pun. Tiga perusahaan pemeringkat internasional utama belum mengubah penilaian mereka pada Hongqiao sejak saat itu, akan tetapi investor tetap tidak yakin. Alhasil, tingkat yield dari obligasi dollar perusahaan mencapai 14% minggu lalu, rekor tertinggi baru.

“Tingkat default perusahaan milik swasta Shandong tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan yang nasional,” kata Jenny Huang, Direktur Penelitian Perusahaan Cina di Fitch Ratings. “Tapi baru-baru ini, risikonya telah meledak.”

Pembiayaan Kreatif

Shandong adalah salah satu pusat ekonomi tertua di Tiongkok. Pertama dibangun untuk perdagangan, kemudian pertanian, pertambangan, dan pengeboran minyak. Belum lama ini, ekonomi masih booming, kredit murah dan perusahaan-perusahaan swasta sibuk. Semua hal terkendali hanya dengan akses modal yang terbatas. Di China yang dikelola komunis, bank-bank milik negara cenderung memihak perusahaan-perusahaan milik negara untuk penyaluran pinjaman.

Jadi pemerintah kota mendorong sektor swasta untuk mendukung dirinya sendiri. Jaminan silang adalah salah satu solusi. Mereka juga memusatkan risiko keuangan, kata analis S&P Cindy Huang.

“Jaminan silang cenderung mengelompok di sekitar kota dan wilayah tertentu daripada di seluruh provinsi,” katanya. “Mereka sering berada di antara perusahaan swasta, tidak terdaftar dari kota yang sama, sektor yang sama atau tempat CEO saling kenal.”

Sumber: Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kunjungi Kami www.kjaanditagunawan.com
Stay tuned 
close-image