Ekonomi Syariah

EKONOMI SYARIAH : Menaruh Asa Pada Wakaf Tunai

Wakaf tunai menjadi terobosan baru yang ingin dipopulerkan pemerintah guna meningkatkan pendalaman pasar keuangan syariah Tanah Air. Modifikasi wakaf konvensional yang selama ini berupa tanah dan bangunan ini diharapkan dapat menjadi alternatif bagi pembiayaan ekonomi syariah.

Wakaf tunai menjadi terobosan baru yang ingin dipopulerkan pemerintah guna meningkatkan pendalaman pasar keuangan syariah Tanah Air. Modifikasi wakaf konvensional yang selama ini berupa tanah dan bangunan ini diharapkan dapat menjadi alternatif bagi pembiayaan ekonomi syariah.

Wakaf adalah harta individu yang dipisahkan untuk keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut prinsip syariah. Di Indonesia, potensi wakaf tergolong sangat fantastis, sehingga diyakini dapat menggerakkan sektor ekonomi sekaligus industri perbankan.

Dalam riset yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI), total potensi wakaf uang di Indonesia pada akhir tahun 2018 lalu sudah mencapai Rp 77 triliun. Kendati bernilai jumbo, hanya sekitar Rp 200 miliar dari nilai tersebut yang berhasil dikumpulkan.

Bukan cuma itu, nilai wakaf yang telah terkumpul selama ini mencapai lebih dari Rp2.000 triliun. Akan tetapi, wakaf tersebut umumnya dalam bentuk tanah dan bangunan. Luasnya kini sudah mencapai 4 miliar meter persegi di seluruh Indonesia.

Nilai tersebut tentunya tidak sedikit. Bahkan, lembaga sekelas Bank Indonesia merasa perlu membuat sebuah terobosan guna mengoptimalkan wakaf.

Sebelumnya, regulator menyebutkan akan merilis skema baru pendalaman pasar keuangan syariah dalam waktu dekat, salah satunya wakaf tunai. Skema ini akan digunakan untuk meningkatkan pengembangan ekonomi syariah yang beberapa tahun ini masih sangat terbatas.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menyampaikan, terobosan ini pun pernah diimplementasikan di Jawa Timur.

“Salah satunya, universitas di Jawa Timur yang menerima kes wakaf dari mahasiswa, dan itu tidak boleh hilang. Tujuannya untuk proyek pendidikan,” jelas Dody dalam pada Indonesia Shariah Economics Festival (ISEF) 2019 belum lama ini.

Dia mengatakan, wakaf tunai merupakan salah satu instrumen baru di luar beberapa jenis pembiayaan syariah untuk bidang sosial kemasyarakatan.

Shariah Expert BRI Corporate University Muniarti Mukhlisin menyampaikan optimalisasi wakaf memang sudah seharusnya dilakukan.

Selain karena potensi pengumpulan wakaf yang sangat besar, aset-aset wakaf saat ini banyak yang tergolong sebagai aset yang tidak produktif dan bahkan kurang memberi kesejahteraan masyarakat.

“Aset wakaf ini besar, memang seharunya banyak terobosan yang bisa dilakukan dalam optimalisasi ini. Kita juga tidak mau itu semua jadi mubazir,” ucapnya.

Dia menjelaskan, dalam UU Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, pemberi wakaf (wakif) sudah diperbolehkan memisahkan hartanya berupa benda bergerak, uang, logam mulia, surat berharga, kendaraan, hak atas kekayaan intelektual, hak sewa dan benda bergerak lainnya.

Namun, kebiasaan masyarakat yang masih tinggi dalam mewakafkan benda-benda tak bergerak justru menyulitkan pengelola wakaf (nazhir).

“Kalau wakaf hanya diberikan berupa tanah, nazhir juga pasti kesulitan. Pengolahan tanah juga membutuhkan biaya yang tidak kecil, sehingga akhirnya tidak cepat dikelola,” katanya.

Dengan terobosan baru di wakaf tunai, Ani meyakini akan lebih banyak wakif ritel yang berkontribusi, seperti pelajar sekalipun.

“Jadi, wakaf tidak lagi hanya orang yang mampu. Pelajar pun akan mau berwakaf jika tahu manfaatnya,” ucapnya.

PERBANKAN SYARIAH

Di samping itu, Ani berpendapat, dengan semakin likuidnya aset-aset wakaf, kinerja perbankan syariah juga akan semakin terdongkrak. Bank yang pada akhirnya menampung dana-dana siap kelola ini akan mendapat tambahan dana murah.

Perbankan syariah pun dapat mulai menggencarkan produk dana kelolaannya dalam meningkatkan nilai dari aset-aset wakaf tersebut.

Senada, Direktur Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CIEST) IPB Irfan Syauqi Beik menyampaikan skema baru terobosan dalam wakaf tunai memang masih sangat diperlukan, terutama berkaitan dengan penggunaan teknologi informasi yang nantinya mendorong inklusi keuangan syariah masyarakat.

Namun, Irfan menggarisbawahi peningkatan wakaf tunai berarti juga meningkatnya kebutuhan terhadap nazhir yang memiliki pengetahuan tentang industri keuangan.

“Hal ini bagus, nantinya kebutuhan nazhir berkualitas juga diperlukan. Tapi, aset wakaf ini harus dijaga hati-hati, karena sejatinya tidak boleh ada penyusutan sedikit pun,” tegasnya.

Di samping itu, Irfan juga berharap pemerintah juga memperjelas lembaga pengelola aset wakaf. Saat ini, lembaga pengelola wakaf adalah Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan Kementerian Agama. Hal ini membuat pengelolaan menjadi tumpang tindih.

“Struktur pengelola ini juga harus dibenahi. Harusnya kementerian hanya bertugas sebagai regulator, atau pengawas,” katanya.

Direktur Syariah Banking PT Bank CIMB Niaga Tbk. Pandji P. Djajanegara mengatakan perseroan masih belum banyak menghimpun dana wakaf.

Namun, perseroan juga masih menunggu terobosan dari regulator dalam mengoptimalkan aset wakaf yang selama ini masih dalam bentuk tanah.

“Kita belum banyak wakaf. Yang ada itu zakat yang selama tahun ini terkumpul Rp114 miliar dari Baznas dan lembaga amil zakat lainnya,” paparnya.

Pandji menyampaikan, jika wakaf tunai semakin berkembang, perseroan akan mulai meningkatkan produk dana kelolaan. Menurutnya, pos ini justru lebih cocok bagi wakaf yang membutuhkan tingkat pengembalian tinggi.

“Ini dapat dikelola oleh manajer investasi, sehingga manfaat yang diterima nazhir jauh lebih besar,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo menyampaikan perseroan saat ini tengah mengembangkan teknologi informasi berupa aplikasi yang nanti di dalamnya memudahkan wakif.

Pasalnya, dana wakaf yang masuk melalui tabungan yang sangat membantu perseroan menjaga rasio likuiditasnya.

“Wakaf tunai seperti ini pastinya nanti akan membuat banyak orang mau berwakaf, dan tentu ini membutuhkan teknologi informasi. Potensinya besar dan kami harus inovatif. Ini juga DPK ,” katanya.

Di samping itu, Firman menyampaikan perseroan juga aktif memberi sosialisasi kepada masyarakat khususnya nasabah untuk memprioritaskan wakaf.

“Kami juga terus tingkatkan sosialisasi. Wakaf ini merupakan harta yang pahalanya bisa mengalir nanti setelah kita mati,” katanya.

Adapun, Firman menyampaikan perseroan saat ini memiliki produk wakaf hasanah yang total dananya saat ini mencapai Rp7 miliar.

Direktur Unit Usaha Syariah PT Bank Permata Tbk. Herwin Bustaman juga mengatakan wakaf memiliki potensi yang sangat besar dalam mendorong kinerja bank.

“Hanya saja dalam waktu dekat kami belum akan fokus menggarap produk tersebut. Kami fokus pada pengembangan segmen ritel kami dulu,” ucapnya.

Sumber: Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kunjungi Kami www.kjaanditagunawan.com
Stay tuned 
close-image