Berita

DUNIA USAHA : Optimisme Meraih Cuan

Bisnis, JAKARTA – Kondusifnya iklim usaha dan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang positif pada 2020 membangkitkan optimisme pelaku bisnis di Indonesia dalam mencetak keuntungan.n

Optimisme tersebut tecermin dari hasil laporan International Business Report (IBR) semester II/2019 yang dikeluarkan oleh Grant Thornton Indonesia, Jumat (27/12).

Berdasarkan laporan itu, ekspektasi pelaku bisnis Indonesia atas keuntungan usaha mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Ekspektasi atas keuntungan usaha di Indonesia mencapai 84%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan laporan serupa pada periode sebelumnya sebesar 70%.

Angka tersebut juga merupakan rekor tertinggi dari laporan IBR sebelumnya, serta jauh lebih tinggi dari angka rata-rata Asean dan Asia Pasifik yang masing-masing ada pada angka 69% dan 54%.

Tren positif itu juga diikuti dengan meningkatnya harapan pendapatan pelaku bisnis Indonesia sebanyak 2 poin dari 85% pada laporan periode sebelumnya menjadi 87%. Angka ini menempatkan Indonesia pada posisi tertinggi kedua secara global setelah Vietnam yang berada pada level 78%, serta jauh di atas rata-rata negara Asia Pasifik dan Asean yang masing-masing berada pada level 56% dan 59%.

Laporan tersebut menyebutkan, iklim bisnis dalam negeri dinilai sudah cukup kondusif setelah pelantikan presiden dan pengumuman kabinet pemerintahan baru. Faktor ini menjadi pendorong keyakinan pelaku bisnis untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dalam 12 bulan ke depan.

Managing Partner Grant Thornton Indonesia Johanna Gani mengatakan, hal tersebut menunjukkan sinyal positif dari pasar atas perkiraan iklim usaha yang kondusif untuk tahun 2020. Selain itu, berbagai respons positif yang ditunjukkan pelaku usaha dari sisi optimisme bisnis serta harapan atas pendapatan dan keuntungan ini sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini yang diperkirakan naik menjadi 5,2%.

“Indikator makro positif dan antusiasme dari sisi pelaku usaha adalah resep untuk optimisme bisnis yang akan berimbas positif terhadap pasar, hal tersebut menjadikan Indonesia salah satu negara dengan kemungkinan pertumbuhan ekonomi terbesar pada tahun depan,” pungkas Johanna.

Lebih lanjut, laporan tersebut juga memaparkan hal-hal yang berpotensi menghambat kinerja bisnis di Indonesia. Selama 12 bulan ke depan, ketidakpastian ekonomi global masih menjadi faktor potensial penghambat terbesar yang dikutip oleh responden dengan 44% menyoroti sebagai risiko utama. Faktor ini dinilai memberikan pengaruh signifikan bagi pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.

Sekitar sepertiga dari perusahaan juga mengidentifikasi kekurangan keterampilan dan biaya tenaga kerja sebagai kendala potensial. Meski demikian, angka tersebut masih berada di bawah rata-rata Asean dan global serta telah turun dibandingkan dengan survei pada semester awal 2019.

TENAGA KERJA

Sementara itu, ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, guna mengimbangi optimisme para pelaku bisnis, pemerintah harus segera merealisasikan sejumlah rencana kebijakan. Realisasi ini utamanya ditujukan pada kebijakan-kebijakan terkait ketenagakerjaan.

Yusuf mengatakan, salah satu masalah yang masih dihadapi oleh banyak pelaku usaha ialah kurangnya tenaga kerja sesuai bidang usaha yang dimiliki. Oleh karena itu, rencana pemerintah seperti Kartu Pra Kerja dan RUU Cipta Lapangan Kerja wajib dipercepat penggodokan dan pemberlakuannya.

“Masalah tenaga kerja yang terampil masih menjadi problem utama yang bisa menghambat optimisme para pelaku bisnis menjadi kenyataan,” jelasnya saat dihubungi pada Minggu (29/12).

Selain itu, bauran kebijakan fiskal dan moneter yang apik juga perlu dijaga. Tujuannya adalah agar likuiditas dan nilai tukar mata uang Indonesia dapat terjaga sehingga optimisme tersebut dapat berkembang menjadi upaya untuk melakukan ekspansi.

Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan sebagai otoritas di masing-masing bidang dinilai perlu mengeluarkan ketentuan-ketentuan yang sesuai dengan optimisme perusahaan. Dari sisi moneter, BI dapat menjaga atau kembali menurunkan suku bunga acuan sesuai dengan kondisi perekonomian.

Selanjutnya, secara fiskal, Yusuf menilai ruang kebijakan yang dimiliki oleh Kementerian Keuangan masih cukup lebar. Hal tersebut dapat dimanfaatkan dengan mendorong lebih banyak jenis belanja, seperti belanja modal, pada tahun depan.

“Karena rasio belanja modal Indonesia terhadap PDB bila dibandingkan dengan peer country masih terbilang rendah,” imbuhnya.

Sumber: Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kunjungi Kami www.kjaanditagunawan.com
Stay tuned 
close-image