Makro

Cermati Tekornya Neraca Pembayaran dan Transaksi Berjalan

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan Indonesia ditutup variatif pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) justru melaju kencang.

Selama seminggu kemarin, IHSG melemah 0,54% secara point-to-point. Penyebabnya adalah koreksi yang sangat dalam pada perdagangan akhir pekan, mencapai 1,72%. Padahal sebelumnya IHSG mampu menguat selama 8 hari beruntun.

Nasib rupiah lebih baik. Meski anjlok 1% pada perdagangan akhir pekan, tetapi secara mingguan rupiah masih menguat signifikan di hadapan greenback, yaitu 1,81%.

Pekan lalu adalah memang penuh dengan sentimen positif, terutama di luar negeri, yang membuat IHSG dan rupiah bisa menjalani reli. Pertama, meredanya tensi perang dagang AS dan China. Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat untuk bertemu di sela-sela KTT G20 di Buenos Aires (Argentina) akhir bulan ini. Diharapkan pembicaraan ini bisa melahirkan solusi untuk mengakhiri perang dagang Washington-Beijing.

Kedua, AS menjalani pemilihan sela yang membuat investor menghindari Negeri Paman Sam. Hasil pemilihan tersebut adalah Partai Republik masih memegang kendali di Senat, tetapi Partai Demokrat berhasil merebut kursi mayoritas di House of Representative.

Ini membuat potensi gridlock (Partai Republik dan Partai Demokrat sama kuat sehingga bisa membuat pemerintah tidak leluasa bergerak) di Washington. Risiko gaduh politik dan terjegalnya kebijakan-kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump membesar sehingga investor dihadapkan kepada ketidakpastian.

Dua sentimen utama itu berhasil membuat IHSG dan rupiah menjalani masa-masa indah. Namun pada akhir pekan, terjadi petaka yang membuat keduanya jatuh.

Dari luar negeri, ada hasil rapat The Federal Reserve/The Fed. Jerome ‘Jay’ Powell dan kolega memang mempertahankan suku bunga acuan di 2-2,25%. Bahkan The Fed menyebut ada risiko perlambatan investasi di Negeri Paman Sam.

Namun risiko tersebut tidak menyurutkan niat bank sentral AS untuk tetap dalam mode pengetatan kebijakan moneter. Dalam pernyataan tertulisnya, The Fed menyebut siklus kenaikan suku bunga acuan secara gradual masih akan ditempuh.

Kenaikan suku bunga acuan akan ikut menaikkan imbalan investasi di AS, khususnya di instrumen berpendapatan tetap. Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS akan meningkat dan nilainya semakin kuat.

Dari dalam negeri, investor harap-harap cemas menanti rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal III-2018. Pelaku pasar cenderung berekspektasi bahwa NPI akan mencatat kinerja yang lebih buruk dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama di pos transaksi berjalan (current account).

Double blow ini membuat IHSG dan rupiah terkapar pada perdagangan akhir pekan lalu. Rupiah masih bisa selamat (bahkan penguatannya masih signifikan), tetapi tabungan penguatan IHSG yang dikumpulkan selama berhari-hari langsung habis dalam sekali pukul.

Meski Minus pada Akhir Pekan, Wall Street Melesat Secara Mingguan

Dari Wall Street, tiga indeks utama mencatatkan penguatan tajam secara mingguan. Dow Jones Industrial Average (DJIA) melesat 2,84%, S&P 500 melejit 2,13%, dan Nasdaq Composite lompat 1,06%.

Seharusnya penguatan ini bisa lebih tinggi andai saja bursa saham New York tidak terkoreksi pada perdagangan akhir pekan di mana DJIA turun 0,77%, S&P 500 melemah 0,92%, dan Nasdaq anjlok 1,67%. Sentimen perang dagang sukses menjadi pendorong sekaligus yang menjatuhkan Wall Street.

Awalnya, investor berbunga-bunga karena kemungkinan damai dagang AS-China semakin besar. Pekan lalu, Wang Qishan, Wakil Presiden China, menegaskan bahwa Beijing siap berdiskusi dan bekerja dengan Washington untuk menyelesaikan friksi dagang.

“China dan AS tentu berharap ada peningkatan kerja sama ekonomi dan perdagangan. China siap berunding dengan AS atas kesepakatan bersama untuk menyelesaikan berbagai isu di bidang tersebut. Sikap negatif dan kemarahan bukanlah cara yang baik untuk menyelesaikan masalah, tidak bisa juga dengan membatasi diri. Itu hanya memperparah turbulensi di pasar global,” papar Wang dalam pidato di Singapura, dikutip dari South China Morning Post.

Namun sentimen ini juga yang membuat Wall Street terkoreksi. Data-data ekonomi China mengkonfirmasi bahwa perekonomian Negeri Tirai Bambu sedang mengalami perlambatan.

Inflasi tingkat produsen di China pada Oktober 2018 tercatat 3,3% secara tahunan, melambat dibandingkan pencapaian bulan sebelumnya yaitu 3,6%. Data ini menunjukkan bahwa dunia usaha China mengalami penurunan gairah. Salah satunya akibat perang dagang dengan AS, yang merupakan negara tujuan ekspor utama Negeri Tirai Bambu.

Saat produk China makin sulit masuk ke Negeri Adidaya karena berbagai bea masuk, industri dalam negeri pun kesulitan. Geliat industri berkurang, sehingga kenaikan harga tidak secepat sebelumnya.

Kemudian penjualan mobil pada Oktober 2018 turun 11,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi dalam 4 bulan berturut-turut. Bahkan penurunan Oktober 2018 menjadi yang terdalam sejak Januari 2012. China adalah pasar otomotif terbesar di dunia. Ketika penjualan mobil di China lemah, maka rantai pasok global ikut lunglai.

Investor khawatir perang dagang akan terus melemahkan perekonomian China, sehingga mempengaruhi seluruh dunia. China adalah perekonomian terbesar kedua di dunia, sehingga perlambatan di sana akan dirasakan oleh semua negara.

Cermati Sentimen Penggerak Pasar Hari Ini (1)

Untuk perdagangan hari ini, investor patut mencermati sejumlah risiko. Pertama tentunya koreksi yang dialami Wall Street pada perdagangan akhir pekan lalu. Dikhawatirkan dampaknya masih terasa pada perdagangan di Asia awal pekan ini. Virus koreksi Wall Street harus menjadi perhatian.

Kedua adalah harga minyak dunia. Selama minggu kemarin, harga minyak jenis brent anjlok 3,84% sementara light sweet amblas 4,67%.

Perlambatan ekonomi di China menjadi salah satu penyebab koreksi harga si emas hitam. Saat ekonomi melambat, permintaan energi akan ikut berkurang sehingga harga minyak bergerak turun.

Data US Energy Information Administration menunjukkan bahwa China adalah konsumen minyak terbesar kedua dunia yaitu mencapai 12,79 juta barel/hari pada 2017. Hanya kalah dari AS yang sebanyak 19,88 juta barel/hari. Oleh karena itu, perkembangan permintaan di China akan sangat menentukan pembentukan harga komoditas ini.
Jika harga minyak masih terus turun, maka bisa menjadi sentimen negatif buat IHSG. Emiten migas dan pertambangan akan kurang mendapat apresiasi, yang berisiko membebani IHSG secara keseluruhan.

Cermati Sentimen Penggerak Pasar Hari Ini (2)

Sentimen ketiga, kali ini dari dalam negeri, adalah rilis NPI kuartal III-2018. Data ini keluar setelah penutupan pasar akhir pekan lalu, tetapi ekspektasi defisit yang lebih dalam sudah cukup membuat IHSG dan rupiah jatuh ke zona merah.

Ekspektasi itu terwujud alias self fulfiling prophecy. Bank Indonesia (BI) mencatat NPI kuartal III-2018 mengalami defisit US$ 4,39 miliar. Lebih dalam ketimbang kuartal sebelumnya yang juga minus US$ 4,31 miliar. Pencapaian kuartal III-2018 merupakan yang terendah sejak kuartal III-2015.

NPI terdiri dari transaksi berjalan (current account) serta transaksi modal dan finansial. Pada kuartal II-2018, keduanya tekor.

Transaksi berjalan, yang menggambarkan pasokan valas dari ekspor-impor barang dan jasa, mengalami defisit US$ 8,85 miliar atau 3,37% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ini merupakan defisit terdalam sejak kuartal II-2014.

Sementara transaksi modal dan finansial, yang mencerminkan pasokan valas dari investasi di sektor riil dan pasar keuangan, defisit US$ 4,67 miliar. Lebih dalam ketimbang kuartal sebelumnya yaitu minus US$ 3,44 miliar.

Data NPI, terutama transaksi berjalan, menjadi perhatian utama pelaku pasar. Pasalnya, data ini mencerminkan pasokan devisa di perekonomian domestik. Jika defisit, berarti memang pasokan valas sedang seret sehingga wajar kalau rupiah melemah.

Dengan NPI (dan transaksi berjalan) yang defisit, bahkan lebih dalam dibandingkan kuartal sebelumnya, maka artinya Indonesia sedang kekurangan valas. Ini tentu akan menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan domestik.

Sentimen keempat, masih dari dalam negeri, adalah aturan baru dari Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait dengan penghitungan bobot saham-saham penghuni dua indeks penting yakni LQ45 dan IDX30. Mulai Februari 2019, BEI akan menggunakan metode free float adjusted index untuk menentukan bobot dari setiap saham penghuni indeks LQ45 dan IDX30, dari yang sebelumnya menggunakan metode capitalization-weighted index.

Definisi yang digunakan BEI terkait dengan free float adalah total saham scriptless yang dimiliki oleh investor dengan kepemilikan kurang dari 5%. Akibat dari penerapan aturan ini adalah perubahan kontribusi saham-saham berkapitalisasi besar terhadap pembentukan indeks IDX30.

Misalnya, saat ini bobot HMSP adalah 11,12% tetapi nantinya susut menjadi hanya 2,36%. Kemudian UNVR yang saat ini menyumbang 8,4% menjadi hanya 3,43%.

Saham-saham ini nantinya menjadi kurang seksi untuk dikoleksi, karena tidak lagi punya andil besar di pasar. Bisa saja hasilnya investor melakukan aksi jual massal, yang membuat saham-saham kelas kakap terkoreksi. Kalau saham HMSP atau UNVR terkena tekanan jual, maka IHSG secara keseluruhan akan terancam.

Simak Agenda dan Data Berikut Ini

Berikut adalah peristiwa-peristiwa yang akan terjadi hari ini:
Rilis data indeks harga produsen Jepang periode Oktober 2018 (06:50 WIB).

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

Indikator Tingkat
Pertumbuhan ekonomi (Q III-2018 YoY) 5,17%
Inflasi (Oktober 2018 YoY) 3,16%
Defisit anggaran (APBN 2018) -2,19% PDB
Transaksi berjalan (Q III-2018) -3,37% PDB
Neraca pembayaran (Q III-2018) -US$ 4,39 miliar
Cadangan devisa (Oktober 2018) US$ 115,16 miliar
Untuk mendapatkan informasi seputar data-data pasar, silakan klik di sini.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Sumber : Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kunjungi Kami www.kjaanditagunawan.com
Stay tuned 
close-image