Makro

Informasi Seputar Makro/Mikro Ekonomi

  • Makro

    RI Utang Rp24,6 Triliun dari Bank Dunia Sepekan Terakhir

    Jakarta, CNN Indonesia — 

    Indonesia mengantongi utang sekitar US$1,7 miliar dolar atau setara Rp24,6 triliun (kurs Rp14.489 per dolar AS) dari Bank Dunia dalam sepekan terakhir.

    Utang tersebut digelontorkan bertahap untuk mendukung tiga program pemerintah. Pertama, sebesar US$400 juta untuk mendukung reformasi demi memperdalam, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat ketahanan sektor keuangan pada 11 Juni 2021.

    Kedua, sebesar US$800 juta untuk mendanai reformasi kebijakan investasi dan perdagangan, serta membantu percepatan pemulihan ekonomi pada 16 Juni 2021. Ketiga, US$500 juta untuk program penanganan pandemi covid-19, termasuk penguatan sistem kesehatan dan program vaksinasi gratis dari pemerintah pada 19 Juni lalu.

  • Makro

    Skenario Terburuk Ekonomi Bila Pemerintah Terapkan Lockdown

    Jakarta, CNN Indonesia — 

    Dorongan untuk menerapkan lockdown menguat menyusul kenaikan kasus aktif covid-19 di berbagai daerah beberapa pekan terakhir.

    Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban, misalnya, meminta pemerintah mengganti istilah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro menjadi lockdown alias kekarantinaan wilayah.

    Zubairi menilai sudah saatnya pemerintah pusat dan daerah tegas untuk menyesuaikan regulasi mengingat lonjakan kasus positif virus corona sudah membuat keterisian tempat tidur di rumah sakit atau Bed Occupancy Rate (BOR) melonjak.

    “Didasari melonjaknya kasus covid-19 dan rawat inap, saya merasa Indonesia butuh istilah baru sebagai ganti PPKM Mikro. Saya rekomendasikan kata lockdown saja agar monitoringnya lebih tegas dan lebih serius, meski isi konten kebijakannya tidak jauh beda dengan PPKM” cuit Zubairi melalui akun Twitter miliknya @ProfesorZubairi, Selasa (13/6).

  • Makro

    RI Kantongi Utang Baru Rp11,36 Triliun dari Bank Dunia

    Jakarta, CNN Indonesia — 

    Indonesia mengantongi utang baru sebesar US$800 juta atau setara Rp11,36 triliun (kurs Rp14.200 per dolar AS) dari Bank Dunia. Utang ini bakal digunakan untuk mendanai reformasi kebijakan investasi dan perdagangan, serta membantu percepatan pemulihan ekonomi.

    Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste Satu Kahkonen mengungkap hambatan besar bagi investasi dan perdagangan telah membatasi kemampuan Indonesia untuk menarik investasi asing langsung yang berorientasi ekspor.

    Termasuk juga, mengurangi integrasi Indonesia ke dalam rantai nilai global dan meningkatkan harga pangan di dalam negeri.

    Tantangan-tantangan tersebut juga telah memperlambat pertumbuhan sektor manufaktur dan non-komoditas.

  • Makro

    Jaga stabilitas rupiah, BI diperkirakan masih tahan suku bunga acuan

    KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Permata memperkirakan bahwa Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Mei 2021. 

    Kepala ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, salah satu pertimbangan BI adalah masih dibutuhkannya tingkat suku bunga yang relatif rendah agar proses pemulihan ekonomi tetap berjalan. 

    “Di sisi lain, BI diperkirakan akan memilih untuk menjaga stabilitas nilai tukar, seiring dengan risiko dari The Fed terkait kebijakan tapering off,” ujar Josua kepada Kontan.co.id, Rabu (16/6). 

  • Makro

    Neraca perdagangan Mei 2021 surplus US$ 2,36 miliar

    KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia Mei 2021 masih mencetak surplus. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, surplus neraca perdagangan pada bulan Mei 2021 sebesar US$ 2,36 miliar.

    Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, surplus ini cenderung meningkat bila dibandingkan dengan surplus pada bulan April 2021 yang sebesar US$ 2,19 miliar. 

    Bahkan, bila dilihat dari awal tahun 2021, surplus bulan Mei 2021 ini merupakan yang tertinggi selama tahun berjalan. Dan ini merupakan surplus yang ke 13 kalinya sejak tahun 2020. 

    “Capaian ini perlu diapresiasi, tentunya kita berharap ke depan neraca perdagangan kita akan mengalami surplus dengan tren yang lebih tinggi lagi,” ujar Suhariyanto, Selasa (15/6) via video conference. 

  • Makro

    Menkeu Sri Mulyani optimistis, namun tetap waspada kelola ekonomi nasional

    KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dalam menyusun outlook pertumbuhan ekonomi 2021 dan proyeksi di tahun 2022, pemerintah selalu mempertimbangkan berbagai faktor secara komprehensif, termasuk di dalamnya dinamika aktivitas ekonomi yang terus berkembang baik dari faktor domestik maupun global.

    Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memandang bahwa rentang angka outlook pertumbuhan ekonomi  tahun 2021 sebesar 4,5%-5,3%, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2022 di rentang 5,2%-5,8% telah mencerminkan optimisme arah pemulihan ekonomi dan juga potensi akselerasi pertumbuhan ekonomi dari reformasi struktural. Rentang angka proyeksi tersebut, juga secara realistis mencerminkan masih adanya risiko ketidakpastian.

  • Makro

    Simak ulasan BI soal rupiah digital atau central bank digital currency (CBDC)

    KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) tengah merumuskan pembuatan mata uang digital atau Central Bank Digital Currency (CBDC) dengan kata lain rupiah digital.

    Dalam unggahan di laman Instagram BI @bank_indonesia, dijelaskan bahwa rupiah digital ini akan berbentuk uang digital yang akan diterbitkan dan dikendalikan oleh bank sentral.

    “Sehingga, pasokannya bisa ditambahkan atau dikurangi oleh bank sentral untuk mencapai tujuan ekonomi. Ini menjadi simbol kedaulatan negara atau sovereign currency yang diterbitkan oleh bank sentral dan menjadi bagian dari kewajiban moneter,” tulis BI, Minggu (29/5).

    Nah, rencana penerbitan CBDC ini dilandasi oleh tiga pertimbangan. Pertama, sebagai alat instrumen pembayaran yang sah di Indonesia.

    Kedua, mendukung pelaksanaan kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Ketiga, menghadirkan pilihan instrumen pembayaran berbasis teknologi.

  • Makro

    Selain kebijakan suku bunga acuan, ini tujuh jurus BI perkuat ketahanan ekonomi

    KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan alias BI 7 daya reverse repo rate dalam Rapat Dewan Gubernur BI Mei 2021 di level 3,50%. 

    Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, kebijakan ini sejalan dengan perlunya bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan tingkat inflasi. 

    “Ini konsisten dengan perkiraan inflasi yang rendah dan upaya menajga stabilitas nilai tukar rupiah dan mempercepat upaya pemulihan ekonomi,” ujar Perry, Selasa (25/5). 

    Selain menahan suku bunga acuan, bank sentral juga menahan suku bunga deposit facility sebesar di level 2,75% dan suku bunga lending facility di level 4,25%. 

    Tak hanya itu, Perry juga berjanji BI akan tetap mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif dan mempercepat sistem pembayaran Indonesia. 

  • Makro

    10 Tanda Ekonomi RI Sembuh dari Corona Versi Sri Mulyani

    Jakarta, CNN Indonesia — 

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan ada 10 tanda ekonomi Indonesia mulai pulih dari tekanan pandemi virus corona atau covid-19.

    Tanda pertama berasal dari indeks keyakinan masyarakat yang meningkat ke kisaran 101,5. Keyakinan masyarakat, kata Ani, sudah kembali ke level optimis dan jauh melampaui masa awal pandemi.

    Kedua, aktivitas masyarakat yang meningkat pada Maret, April, dan Mei 2021.

    “Ada peningkatan mobilitas sampai 14 Mei, ini tentu dengan catatan covid-19 bisa kita kendalikan,” ucapnya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Mei 2021, Selasa (25/5). .

    Ketiga, indeks penjualan ritel mencapai kisaran 188 per Maret lalu naik lagi menjadi 209 pada April 2021.

  • Makro

    Indonesia mencoba bertahan dari tiga krisis besar yang melanda

    KONTAN.CO.ID –  TEPAT 24 tahun lalu, Indonesia menghadapi puncak krisis ekonomi dan politik pada Mei 1998. Krisis moneter yang berujung pada krisis politik dan menumbangkan rezim Orde Baru itu masih menyisakan beban ekonomi dan sejarah bagi negara ini.

    Benar, Indonesia memang mampu bangkit dan keluar dari tekanan krisis, termasuk dari hantaman krisis ekonomi kedua tahun 2008. Tapi, di saat sedang berupaya menata kembali ekonomi, Indonesia kembali dihadapkan pada krisis yang lebih dahsyat akibat pandemi Covid-19.

    Selain ekonomi, kita juga dihadapkan krisis kesehatan.

    Secara umum, efek pandemi Covid-19 sudah terlihat nyata. Selain menewaskan ribuan orang, bahkan jutaan secara global, tahun lalu, laju ekonomi Indonesia minus 2,07%. Ratusan triliun rupiah duit stimulus hanya mampu menahan kejatuhan ekonomi ke jurang lebih dalam.

Kunjungi Kami www.kjaanditagunawan.com
Stay tuned 
close-image