Artikel

Kumpulan Artikel, Makalah Seputar Dunia Akuntansi

  • Artikel

    Aset Keuangan Syariah Tembus Rp1.836 T per Februari 2021

    Jakarta, CNN Indonesia — 

    Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mencatat total aset keuangan syariah Indonesia mencapai Rp1.836 triliun per Februari 2021. Angka tersebut meningkat dari posisi Desember 2020 yang sebesar Rp1.803 triliun.

    Meski demikian, market share keuangan syariah masih di angka 9,96 persen. Menurut Wimboh hal tersebut menunjukkan masih rendahnya penetrasi industri jasa keuangan syariah dibandingkan konvensional.

    “Jangan kita berbangga. Perlu lompatan yang dituangkan dalam roadmap. Untuk itu dalam strategi kita sangat clear bahwa road map akan mendorong lembaganya harus bisa berkompetisi,” ucap Wimboh dalam Sarasehan Industri Jasa Keuangan, Jumat (23/4).

    Wimboh menuturkan OJK juga telah merumuskan sejumlah strategi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah agar dapat bersaing dengan konvensional.

  • Artikel

    Mengukur Ancaman Ekonomi dari ‘Lockdown’ Virus Corona

    Jakarta, CNN Indonesia — Penyebaran virus corona atau Covid-19 di Indonesia terus meluas. 

    Saat ini, setidaknya sudah ada 117 kasus positif di Tanah Air dengan delapan orang sembuh dan lima orang meninggal.

    Teranyar, virus sudah sampai ke kalangan pejabat negara. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dinyatakan positif virus corona.

    Tak ingin kasus positif terus bertambah, pemerintah daerah hingga pusat pun mulai menerapkan kebijakan beraktivitas dan bekerja di rumah. Kebijakan mulai dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan hingga Presiden Joko Widodo (Jokowi).

    “Dengan kondisi ini, saatnya kita bekerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah,” ucap Jokowi, akhir pekan lalu.

    Aktivitas sekolah hingga acara keagamaan banyak yang mulai dilakukan di rumah. Masyarakat mulai menjaga jarak dengan sesama hingga menjauhi pusat keramaian (self distancing).

  • Artikel

    Memaknai Utang untuk Kesejahteraan

    KONTAN.CO.ID – Kalau kita menengok ke belakang sejenak, masih terngiang dalam ingatan, sepanjang 2018 hingga menjelang pemilu dan pilpres, isu utang terus menggelinding bagai bola salju. Sebagian masyarakat berpandangan, utang kita tetap aman dan terkendali. Sementara sebagian lainnya menilai kondisi utang membahayakan. Fenomena itu tentunya tidak ada yang salah sepanjang dilengkapi argumen, bukan dilatarbelakangi sentimen.Tentunya, kita tidak bisa memaksakan satu pandangan bisa diterima satu sama lain karena terkadang masing-masing mempunyai perspektif yang berbeda. Untuk itu, kita perlu menarik polemik utang dalam sebuah diskusi dengan mengedepankan prinsip rasionalitas, objektifitas ,dan pendekatan yang holistik.

  • Artikel

    ASET TETAP (Bagian Kedua)

    Harga Pembelian

    Harga pembelian adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar dari imbalan lain yang diserahkan untuk memperoleh suatu aset tetap pada saat perolehan atau konstruksi. Dengan demikian, harga pembelian adalah jumlah yang dibayarkan untuk mendapatkan aset tetap, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak boleh dikreditkan setelah dikurangi diskon pembelian dan potongan­potongan lain.

    Pada pembelian aset tetap secara tunai, mudah untuk menentukan harga pembelian. Namun jika pembayaran kasnya ditangguhkan, maka harga perolehan adalah harga tunai aset pada tanggal pembelian. Perbedaan antara nilai tunai dan pembayaran diakui sebagai beban bunga pada saat pembayaran dilakukan, kecuali biaya pinjaman yang dapat dikapitalisasi jika memenuhi pengaturan dan persyaratan dalam PSAK 26 Biaya Pinjaman.

  • Artikel

    ASET TETAP (Bagian Pertama)

    Tujuan Pembelajaran

    1. Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapat:
    2. Memahami sifat dan karakteristik aset tetap;
    3. Memahami pengakuan dan pengukuran aset tetap pada saat perolehan;
    4. Memahami pengukuran aset tetap setelah perolehan;
    5. Memahami sifat dan cara perhitungan penyusutan;
    6. Memahami model biaya dan model revaluasi;
    7. Mengaplikasikan model revaluasi jika terjadi kenaikan atau penurunan nilai wajar aset tetap;
    8. Menghitung penyusutan untuk aset tetap yang diukur dengan menggunakan metode revaluasi;
    9. Memahami akuntansi untuk penurunan nilai;
    10. Memahami akuntansi untuk penghentian pengakuan aset tetap; dan
    11. Mengimplementasikan pengungkapan yang tepat untuk aset tetap.

    Rujukan:

    • PSAK 16 (2014) Aset Tetap
    • PSAK 13 (2014) Properti Investasi
    • PSAK 26 (2014) Biaya Pinjaman
    • PSAK 48 (2014) Penurunan Nilai Aset
    • PSAK 58 (2014) Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan
    • PSAK 61 (2014) Akuntansi Hibah Pemerintah dan Pengungkapan Bantuan Pemerintah
    • ISAK 25 (2011) Hak Atas Tanah
    • ISAK 27 (2014) Pengalihan Aset dari Pelanggan
    • Peraturan Bapepam dan LKNo.  VIIIG.7 Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten dan Perusahaan Publik

    Aset tetap, atau dulu dikenal sebagai Aktiva Tetap, merupakan salah satu aset utama entitas, terutama yang bergerak dalam bidang manufaktur, utilitas, pertambangan dan mineral dan beberapa industri lainnya. Akuntansi tentang aset tetap diatur dalam PSAK 16 yang merupakan konvergensi dari IAS 16 Property Plant and Equipment. PSAK 16 telah direvisi sejak tahun 2007 dan mulai berlaku efektif bagi entitas untuk periode pelaporan dimulai 1 Januari 2008. Selanjutnya pada tahun 2011 dan 2014, DSAK-IAI melakukan revisi terbatas atas PSAK 16 untuk disesuaikan dengan IAS 16 yang juga mengalami beberapa penyesuaian sejalan dengan perubahan pada IAS lainnya.

  • Artikel

    PERSEDIAAN

    Tujuan Pembelajaran

    Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapat:

    1. Menjelaskan definisi dari persediaan
    2. Memahami permasalahan pokok akuntansi persediaan
    3. Membedakan antara metode pencatatan periodek dan perpetual
    4. Memahami dampak kesalahan akuntansi persediaan atas laporan keuangan
    5. Memahami biaya-biaya yang termasuk dalam komponen biaya perolehan persediaan
    6. Menjelaskan dan membandingkan asumsi arus biaya
    7. Memahami nilai realisasi bersih (NRB)/net realizable value (NRV) dan mengaplikasikan aturan yang terendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih
    8. Memahami metode estimasi persediaan
    9. Membuat penyajian dan pengungkapan persediaan, dan
    10. Memahami perbedaan antara PSAK dan IFRS mengenai Persediaan

    Rujukan

    IAS 2 Inventory

    PSAK 14 (2014) Persediaan

    PSAK 26 (2014) Biaya Pinjaman

    Pendahuluan

    Dalam era globalisasi dan sangat pesatnya perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi, tampaknya ruang gerak dan waktu yang tersedia bagi

    dunia usaha menjadi semakin leluasa, tapi sebenarnya persaingan menjadi semakin ketat. Konsumen ditawarkan terlalu banyak pilihan barang dan jasa kebutuhan, dan juga berbagai barang dan jasa yang sebenarnya tak diperlukan dalam beragam jenis, tipe, corak, ukuran, kapasitas, kualitas, da nharga. Baik untuk kebutuhan sandang, pangan, pemmahan, transportasi, komunikasi, jasa perjalanan, pelayanan kesehatan, sampai ke dunia pendidikan dan kerohanian. Semua barang yang diperdagangkan atau digunakan dalam proses produksi atau pelayanan jasa adalah persediaan. Sumber daya (bahan, tenaga, pengetahuan, ruang, dana) semakin langka dan mahal. Sedangkan perkembangan teknologi dan selera konsumen yang sangat pesat menyebabkan barang cepat menjadi usang. Persaingan didunia usaha menjadi semakin tajam. Mulai dari pasar barang konfeksi, sepatu, handphone, personal computer, sampai keindustri otomotif.

  • Artikel

    KAS DAN PIUTANG (Bagian Kedua)

    Rekonsiliasi Catatan Bank

    Pengelolaan kas pada entitas biasanya melibatkan bank karena sangat berisiko menempatkan uang tunai yang besar didalam kantor entitas. Oleh sebab itu biasanya entitas memiliki mekanisme pengelolaan kas, misalnya kas yang diterima disetorkan ke Bank setiap hari atau seminggu sekali. Untuk menggunakan dana kas dibank tersebut entitas dapat menggunakan sarana transfer, kartu ATM atau menggunakan cek.

    Bank memberikan laporan bank secara periodic kepada pelanggannya. Terkadang, terdapat perbedaan pencatatan antara bank dan entitas. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan cut-off pencatatan antara bank dan entitas dan kesalahan pencatatan. Entitas biasanya membuat laporan rekonsiliasi bank untuk mencocokkan saldo kas yang ada direkeningnya dan saldo kas dalam catatan entitas.

    Istilah-istilah terkait laporan rekonsiliasi bank

  • Artikel

    KAS DAN PIUTANG (Bagian Pertama)

    Tujuan Pembelajaran

    Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan mahasiswa dapat:

    1. Memahami definisi dan jenis Kas;
    2. Memahami pencatatan kas kecil;
    3. Memahami rekonsiliasi bank sebagai pengelolaan kas;
    4. Memahami definisi dan jenis Piutang;
    5. Memahami pengakuan awal Piutang;
    6. Memahami Penurunan Nilai Piutang; dan
    7. Memahami Penghentian pengakuan Piutang.

    Rujukan

    • PSAK 50 (2010) Instrumen Keuangan: Penyajian
    • PSAK 55 (2011) Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran
    • PSAK 60 Instrumen Keuangan: Pengungkapan

    Pendahuluan

    Setelah bab sebelumnya telah memberikan pengenalan mengenai instrument keuangan yang tercakup dalam PSAK 50, 55, dan PSAK 60, pada bab ini akan dijelaskan secara lebih mendalam mengenai Kas dan Piutang. Aliran kas sangat penting dalam kelangsungan hidup entitas, sehingga ada pepatah yang mengatakan “Cash is the king!”

  • Artikel

    PENGENALAN INSTRUMEN KEUANGAN (Bagian Kedua)

    Definisi Instrumen Keuangan

    Aset Keuangan

    Menurut PSAK 50, aset keuangan adalah setiap aset yang berbentuk:

    1.        Kas, seperti mata uang lokal dan asing dan deposito dibank;

    2.        Instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas lain, seperti investasi saham pada entitas yang terdaftar di bursa;

    3.        Hak kontraktual;

    • Untuk menerima kas atau aset keuangan lainnya dari entitas lain, seperti piutang usaha dan wesel tagih; atau
    • Untuk mempertukarkan aset keuangan atau liabilitas keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi menguntungkan entitas tersebut, seperti obligasi konversi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk mengkonversi obligasi tersebut dengan kepemilikan saham pada entitas penerbit obligasi dan sebaliknya menimbulkan kewajiban kontraktual bagi penerbit obligasi untuk menyerahkan saham kepada pemegang obligasi; atau

    4.        Kontrak yang akan atau mungkin diselesaikan dengan menggunakan instrument ekuitas yang diterbitkan oleh entitas dan merupakan:

    • Nonderivatif dimana entitas harus atau mungkin diwajibkan untuk menerima suatu jumlah yang bervariasi dari instrument ekuitas yang diterbitkan entitas, seperti kontrak untuk menerima jumlah yang bervariasi dari instrument ekuitas entitas yang setara dengan 10 kg emas; atau
    • Derivatif yang akan atau mungkin diselesaikan selain dengan mempertukarkan sejumlah tertentu kas atau aset keuangan lain dengan sejumlah tertentu instrument ekuitas yang diterbitkan entitas.  Untuk tujuan ini, instrument ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut tidak termasuk instrument yang merupakan kontrak untuk menerima atau menyerahkan instrument ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut dimasa depan.
Kunjungi Kami www.kjaanditagunawan.com
Stay tuned 
close-image