Makro

BI Diprediksi Pertahankan Suku Bunga Acuan 5 Persen

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia diproyeksikan akan tetap menahan suku bunga acuan pada hasil Rapat Dewan Gubernur, Rabu (18/12/2019) sampai Kamis (19/12/2019) di level 5 persen.

Head of Research, Macroeconomic and Financial Sector Policy dari LPEM FEB Universitas Indonesia, Febrio N. Kacaribu menjelaskan, di tengah perlambatan ekonomi global akibat aktivitas perdagangan dan investasi yang melemah, data terbaru mengenai kondisi ekonomi makro Amerika Serikat telah membawa sedikit ruang pada sikap pelonggaran moneter the Fed.

The Fed sudah memutuskan untuk menghentikan sikap pelonggaran mereka dengan membiarkan tingkat suku bunga tetap. Selain itu, konsumsi dan pasar tenaga kerja yang kuat serta kesepakatan antara AS-China merupakan kabar yang baik pada akhir tahun ini.

Sementara itu, ECB juga telah memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuannya, tetap berlaku di 0%.

Tak hanya itu, RBI juga mengumumkan tingkat suku bunga yang tidak berubah karena mereka mempertimbangkan tekanan inflasi dan adanya jeda transmisi antara penurunan suku bunga dan kredit dalam perekonomian.

“Bank Indonesia juga mempertahankan suku bunga kebijakannya di 5,0% bulan lalu, setelah memotongnya empat kali dengan total 100 bps sepanjang tahun sebagai langkah antisipasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke depannya,” kata Febrio melalui laporan yang dikutip Bisnis, Rabu (18/12/2019).

Febrio juga menambahkan, berkurangnya sikap pelonggaran bank sentral di negara maju menyebabkan aliran modal keluar dari negara-negara berkembang untuk sementara ini.

Adapun total akumulasi aliran modal masuk ke Indonesia sejak awal tahun menjadi lebih rendah pada US$12,5 miliar pad pertengahan Desember dari US$12,7 miliar bulan sebelumnya.

Febrio menjelaskan, terjadinya sedikit arus modal keluar ini juga tercermin pada imbal hasil yang lebih tinggi dari obligasi pemerintah 10 tahun dan 1 tahun menjadi 7,3% dan 5,5% pada Desember.

Dia juga menambahkan, kondisi rupiah tetap stabil dan bahkan terapresiasi pada 3,3% (ytd) terhadap dolar AS pada pertengahan Desember.

“Gambaran yang lebih baik dari data neraca perdagangan dalam jangka pendek mengurangi tekanan pada CAD, sehingga mengurangi risiko bagi rupiah,” jelas Febrio.

Febrio yakin, dampak positif dari surplus perdagangan ke dalam rupiah juga tercermin dalam angka cadangan devisa yang stabil pada US$126,6 miliar pada bulan November.

Sumber: Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kunjungi Kami www.kjaanditagunawan.com
Stay tuned 
close-image