UKM

AKSES KREDIT UMKM DIPERLUAS : Bunga KUR Murah Meriah

Bisnis, JAKARTA — Pemerintah memperluas akses pembiayaan murah melalui penurunan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari 7% menjadi 6% pada tahun depan. Bunga rendah diharapkan meningkatkan kontribusi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) terhadap perekonomian nasional.

Selain menurunkan suku bunga, pemerintah juga menaikkan plafon KUR sebesar 36%, yakni dari Rp140 triliun pada tahun ini menjadi Rp190 triliun untuk tahun depan. Angka ini akan terus ditingkatkan menjadi Rp325 triliun pada 2024.

Menteri Koordinator bidang Pereko­nomian Airlangga Hartarto menga­takan kebijakan ini akan memperbanyak jumlah UMKM yang mendapatkan akses pembiayaan sekaligus mendorong percepatan pertumbuhan bisnisnya di Tanah Air.

“KUR ini didorong untuk semua sektor, tetapi kita akan fokus mem­bangun KUR berbasis kelompok atau klas­ter, karena akan lebih efisien untuk perekonomian,” katanya, Selasa (12/11).

Dia menambahkan, pemerintah masih mengandalkan perbankan untuk memantau aliran dana KUR agar tepat sasaran. Selain itu, pemerintah juga meminta perbankan untuk memprioritaskan penyaluran KUR daripada kredit jenis lain.

“Apalagi kredit industri kecil rata-rata lebih besar. Jadi kami harus mendorong KUR yang nilainya di atas Rp500 juta,” imbuhnya.

Dengan plafon KUR yang naik, maka peran UMKM terhadap pertumbuhan produk domestik bruto bakal semakin tinggi. Pemerintah berharap kontribusi UMKM terhadap PDB bisa meningkat ke angka 65% dari total PDB.

Bagi bankir, kebijakan bunga KUR rendah disambut positif. SVP Micro Development and Agent Banking PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Zedo Faly mengatakan penurunan suku bunga KUR berpotensi akan menambah jumlah debitur dan mendorong peningkatan akses pembiayaan untuk modal kerja maupun investasi.

Selain itu, penurunan bunga ini akan mempermudah bank dalam menawarkan KUR kepada masyarakat yang selama ini kesulitan dalam mendapatkan akses pembiayaan. “Kami sampai saat ini masih menunggu kuota resmi dari pemerintah terkait target KUR tahun depan dan yang kami ajukan Rp30 triliun,” katanya kepada Bisnis, Selasa (12/11).

Hingga Oktober, realisasi penyaluran KUR Bank Mandiri tercatat sebesar Rp20,12 triliun atau sebesar 80,51% dari kuota tahun ini. Dana tersebut telah disalurkan kepada 255.935 debitur, dan terbanyak disalurkan ke sektor produksi sebanyak Rp10,09 triliun atau sebesar 50,14% dari total penyaluran.

Secara terpisah, General Manager Divisi Bisnis Usaha Kecil BNI Bambang Setyatmojo menga­­ta­­kan penyaluran KUR BNI per Ok­to­ber 2019 se­­­besar Rp16 tri­li­un atau te­lah men­­­­capai 100% dari kuota yang ditetapkan peme­rin­tah.

Namun, pada Oktober, BNI mendapatkan tambahan kuota KUR sebesar Rp2 triliun sehingga total target BNI menjadi Rp18 triliun hingga Desember 2019 ini. “Untuk itu kami menyambut positif penurunan suku bunga KUR dan penambahan plafon KUR,” katanya.

Direktur Pemasaran BPD DIY Agus Trimurjanto mengatakan bunga KUR yang kian murah akan memunculkan harapan pengusaha di sektor ritel lebih cepat berkembang. “Nasabah kami yang telah naik kelas dari mikro kecil ke menengah cukup besar,” tutur Agus.

margin bank

Di sisi lain, bunga riil KUR untuk 2020 sebenarnya 16,5% dan telah mendapatkan subsidi sebesar 10,5% dari pemerintah. Besaran subsidi ini tidak berbeda dibandingkan dengan tahun ini. Artinya, pemangkasan suku bunga sebesar 1% ini secara tidak langsung akan mengorbankan pihak perbankan.

Namun, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir menjelaskan bankir tak perlu khawatir margin profit akan tergerus. “Dengan penurunan 1% perbankan sudah dapat margin keuntungan 2%—3%. Jadi dari kalau contoh Rp200 triliun saja sudah 6 triliun itu untung sendiri,” ujar Iskandar.

Dengan program KUR berbasis kelompok, Iskandar berharap bankir dapat menekan biaya overhead. “Contohnya, kalau satu kelompok ada 50 debitur kan tanggung jawabnya bisa diserahkan ke ketua kelompok sehingga tanda tangan credit cost-nya murah,” ujar Iskandar.

Sementara itu, Direktur Riset Center of Reform on Economy (CORE) Piter Abdullah justru kecewa dengan kebijakan KUR 2020. Baginya, menurunkan bunga KUR menjadi 6% merupakan pemborosan karena meningkatkan beban subsidi. Padahal, hasil yang diperoleh tidak signifikan.

“Selain tidak signifikan, bahkan yang terjadi justru mendistorsi pasar keuangan mikro,” katanya kepada Bisnis, Selasa (12/11).

Piter melanjutkan, tujuan utama KUR yakni meningkatkan UMKM lewat pembiayaan jelas tidak tercapai. Padahal, sudah banyak masukan bahkan termasuk dari pemerintah sendiri seperti kajian kantor staf presiden hingga BPK.

Dia juga mengkritisi praktisi penyaluran kredit yang kebanyakan hanya mengganti nasabah kredit komersial biasa menjadi nasabah KUR. Artinya, perbankan kemungkinan sudah tidak punya cukup nasabah komersial yang potensial untuk diubah statusnya menjadi nasabah KUR. ^(Maria Elena/Lalu Rahadian)

Sumber:Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kunjungi Kami www.kjaanditagunawan.com
Stay tuned 
close-image